Syariah, Fikih dan Siyasah

  1. Pengertian Syariah

Syariah adalah teks-teks suci yang diturunkan Allah kepada Rasulullah, baik al-Quran maupun as-Sunnah, yang mana sunnah sendiri adalah terjemahan, penjabaran, implementasi dan praktik dari al-Quran.

Teks suci tersebut yang kemudian menjadi sumber hukum dalam Islam. Allah berfirman:

وما ينطق عن الهوى () إن هو إلا وحي يوحى

Muhammad itu tidak berbicara karena nafsunya sendiri, melainkan berdasarkan wahyu yang dia terima. (al-Najm: 3-4)

Pengertiaan syariat Islam menurut bahasa adalah: jalan hidup yang harus dilalui dan digunakan setiap muslim secara individu, sosial dan negara.

Syariat atau syariah adalah 2 kata yang memiliki makna yang sama dan diambil dari bahasa Arab الشريعة.

Pengertian Fiqih menurut bahasa diambil dari kata “al-fiqhu” الفقة, artinya “pemahaman” (al-fahmu). Menurut istilah, Fiqih Islam adalah hasil konklusi dari pemahaman para Ulama Fiqih atas naskah suci al-Quran dan al-Hadits.

Sebuah kesalahan ilmiah mencampuradukkan atau tidak membedakan antara Syariah dengan Fiqih. Karena Syariah itu “ma’shumah” alias “tidak bisa salah”, semua isinya adalah kebenaran yang harus kita imani, dilakukan, serta semua isinya adalah kebaikan dan kemaslahatan manusia di dunia-akhirat.

Sedangkan Fiqih adalah hasil cipta karya para Ulama Fiqih berdasarkan pemahaman, kajian, dan telaah mereka terhadap Syariah.

Karenanya, wajar kalau ada perbedaan pendapat di antara mereka dalam satu masalah yang sama, setinggi apapun derajat dan keilmuwan mereka, masih tetap saja mereka manusia yang bisa benar dan bisa keliru. Mereka juga punya pengalaman, latar belakang pendidikan dan tingkat kepakaran ilmu yang berbeda yang tentu saja berpengaruh pada sudut pandang suatu masalah.

Hal ini tidak berarti kalau Fiqih itu tidak ada harganya dan tidak besar nilainya, bukan demikian, disini yang kita maksud bahwa Fiqih tidak memiliki “qodasah” atau kesakralan sebagaimana Syariah.

Sikap Terhadap Hukum Syariat dan Hukum Fiqih Dalam Ibadah dan Muamalah

Setelah memahami pengertian syariah dan pengertian fiqih, ada baiknya kita mengerti sikap apa yang harus dilakukan terhadap sumber hukum Islam (al-Quran dan al-Hadits).

Pertama, hukum-hukum yang ditetapkan oleh sumber hukum Islam secara gamblang harus disikapi secara “qat’i” alias mutlak. Artinya ketika membaca teks tersebut, jelas tanpa perlu penafsiran atau kajian lagi, seperti:

kewajiban shalat, puasa, zakat harta, memenuhi janji, dilarang berbohong, haram mencuri, zina, larangan nikah sejenis, dan lainnya yang disebut secara gamblang dalam dalil-dalil naqly, yaitu al-Quran dan Sunnah Mutawatirah.

Kedua, dalil dalam sumber hukum Islam yang tercantum tanpa dijelaskan secara gamblang hingga berpotensi dipahami secara multi-interpretasi, yang kemudian menjadi bahan ijtihad ulama dan hasilnya berbeda-beda, maka harus disikapi dengan lapang dada, menghargai perbedaan pendapat. Seperti:

apakah al-fatihah dimulai dari basmalah atau dari “Alhamdulillah…”, apakah niat puasa ramadhan wajib diucapkan setiap malam atau tidak, apakah boleh menghitung awal Ramadhan dan akhirnya dengan hisab falaki atau tidak, berapakan nishab barang curian sehingga seorang pencuri bisa dihukum hudud,dan lain sebagainya. (Al-Madkhal al-Fiqhy al-Aam, Prof. Musthafa Zarqa).

Dengan ini, perbedaan pendapat ulama fiqih dalam sebuah masalah merupakan khazanah dan kekayaan intelektual umat Islam yang harus dibanggakan dan dijaga, bukan diributkan atau malah jadi sumber perpecahan.

Kesimpulannya, Fiqih adalah hasil ijtihad Ulama Fiqih meskipun bersandarkan dan berdasarkan pada Kitabullah dan Sunnah Nabi. Oleh karenanya ilmu fiqih sangat debatable.

2. Pengertian Fikih 

Fiqih menurut bahasa artinya pehaman yang mendalam dan membutuhkan pada adanya arahan potensi akal, sebagaiman firman allah swt. Dan sabda nabi muhammad saw, yaityu

  1. Al-quran: surat at taubah 122

“mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk mendalam pengetahuan tentang agama.”

  1. Al-hadist

HR, bukhori muslim ahmad ibnu hambal, turmidzi dan ibnu majah. Sebagai berikut

“jika allah menginginkan suatu nkebaikan bagi seseorang, dia akan memberikan suatu pemahaman keagamaan (yang mendakam kepadanya)

Sedangkan pengertian fiqh menurut istilah adalah sebagai mana di temukan oleh para fuqoha’ialah:

  1. Wahbah az-zuhaili

“fiqih ialah himpunan hukum syara yang bersifat praktis (amaliah) yang di peroleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci.”

  1. Abdul wahab kholaf

“fiqh ialah ilmu tentang hukum syara yang bersifat fraktis (amaliah) yang di peroleh melalui dalil-dalilnya yang terperinci.”

  1. Ahmad bin muhammad dimyati

“mengetahui hukum-hukum syara dengan menggunakan jalan ijtihad.”

C. SIYASAH

Secara sederhana siyasah syariyah di artikan sebagain ketentuan kebijaksanaan pengurusan masalah kenegaraan yang berdasarkan syaariat.

Khalaf merumuskan siyasah syariyah dengan:

Pengelolaan masalah-masalah umum bagi pemerintah islam yang menjamin terciptanya kemaslahatn dan terhindarnya kemudharatan dari masyarakat islam, dengan tidak bertentangan dengan ketentun syariat islam dan prinsip-prinsip umumnya, meskipun tidk sejalan dengan pendapat ulama mujtahid

Perbedaan dan Contoh Syariah dan Fikih

Utuk lebih memahami pengertian syariat dan fiqih, serta perbedaan keduanya, alangkah baiknya kita menyimak sebuah kisah yang selalu diulang-ulang dan hampir tidak pernah ketinggalan ketika para ulama membahas tema persatuan umat Islam. Tema ini juga erat hubungannya dengan syariat dan fiqih:

Nabi Muhammad ﷺ pernah memberikan instruksi pada para sahabatnya, “Jangan ada seorang pun dari kalian yang shalat Ashar keculi setelah sampai di perkampungan Bani Quraizhah.”

Di tengah perjalanan, waktu shalat sudah menghampiri mereka. Sebagian berkata, “Kami tidak akan shalat kecuali setelah sampai tujuan, sebagaimana perintah Rasul.”

Sebagian lain berbeda pandangan, “Tidak, kami tetap akan melaksanakan shalat ashar sekarang juga, karena bukan itu yang dimaksud oleh Rasul. Beliau hanya ingin kita bergegas sampai tujuan.”

Maka kejadian tersebut disampaikan kepada Nabi ﷺ. Ternyata beliau tidak menyalahkan seorang pun dari mereka. (Hadits Muttafaq Alaih)

Mengapa tidak ada yang disalahkan? Karena beliau mengerti, para sahabat membuat keputusan A atau B, itu karena ingin mentaati Rasul.

Nah, perintah Nabi “jangan shalat” itulah syariat. Sementara keputusan para sahabat setelah mendengar dan memahami sabda Rasul, itulah fiqih.

PERBEDAAN FIQH DAN SYARIAH

  • SYARI’AH

Shalat, zakat, haji dan wuquf arafah, nikah, poligami,

  • FIQIH

Kunut bacaan doa iftitah, jumlah nisab, takaran, kapan waktu lempar jumrah, jenis mahar, waktu dan durasi giliran bermalam.

  • SIYASAH
  1. Berhubungan dengan pengurusan dan pengaturan kehidupan manusia.
  2. Bahwa pengurusandan peraturan ini di lakukan oleh pemegang kekuasaan.
  3. Menciptakan kemaslahatan dan menolak kemhodoratan.
  4. Tidak bertentangan dengan syariat islam.

Teladan Menyikapi Perbedaan Hukum Fiqih

Ikutlah kata Imam Abu Hanifah saat beliau berkata, “Kalau pendapat dan ijtihad saya bertentangan dengan kebenaran sebuah hadits, maka buang pendapat saya, dan amalkan hadits”.

Ikutilah perkataan Imam Ahmad saat ditanya kenapa shalat di belakang imam masjid bermazhab Maliki yang berbeda pendapat. Beliau berkata, “Bagaimana saya tidak shalat di belakang Imam Darul Hijrah, sekaliber Malik bin Anas!”. Quote ini yang menggambarkan rasa hormat beliau.

Ikutlah kata Imam Auza’i yang selama bertahun-tahun menyebut Imam Abu Hanifah adalah ahli bid’ah (karena belum pernah bertemu dan belum kenal, cuma dengar kata orang) saat beliau berkata setelah membaca risalah Imam Abu Hanifah yang diberikan oleh Imam Ibnu Mubarak, “Ikutilah dia, tidak akan sesat orang yang mengikutinya”.

Ikutilah para Imam besar itu saat mereka berkata, “Pendapat saya benar, tapi ada kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah, tapi ada kemungkinan benar”.

Selevel Imam Abu Hanifah saja tidak mampu meyakinkan muridnya, Imam Malik atas pendapatnya, sehingga tercatat perbedaan ijtihad mereka yang elegan.

Secerdas Imam Malik pun tidak mampu meyakinkan Imam Syafii atas pendapatnya, sehingga tertulis indah perbedaan ijtihad mereka.

Manusia jenius seperti Imam Syafii juga tidak dapat meyakinkan Imam Ahmad atas pendapatnya, perbedaan ijtihad keduanya pun terukir dengan elok. Siapa kita untuk memaksakan pendapat yang kita yakini kepada orang lain?

Siapa kita? Berani-beraninya mengakui hanya pendapat kita saja yang mewakili Syariah dan pendapat orang lain tidak!

Biarlah hukum-hukum ijtihadi itu seperti apa adanya, karena kehadiran para ulama dan imam madzhab bukan untuk memecah belah umat. Sebaliknya, perbedaan fatwa mereka adalah keringanan bagi saudara muslim kita lainnya. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *