Sejarah Masuknya Islam ke Nusantara

Kedatangan dan Perkembangan Islam

Awal sejarah dan berkembangnya Islam di Nusantara tampak sangat rumit dan cukup problematis, tapi menarik untuk dibahas. Banyak masalah yang muncul tentang adal-usul dan perkembangan Islam di kawasan ini. Problem yang muncul bukan hanya karena perbedaan-perbedaan tentang apa yang di maksud dengan ‘Islam’ oleh para ahli, tapi lebih penting dari itu karena minimnya data yang memungkinkan kita untuk merekonstruksi suatu sejarah yang dapat dipercaya.

Menarik untuk memahami dan menjelaskan Islam datang berkembang di kepulauan Melayu-Indonesia mengingat bahwa posisi geografis wilayah ini yang berbeda jauh dari pusat-pusat Islam di Timur Tengah. Proses islamisasi di Nusantara juga berbeda dengan daerah lainnya, dimana prosesnya dilakukan secara damai karena daya tarik agama Islam sendiri bagi masyarakat. Hal ini sangat berbeda jauh seperti di daerah lainnya, proses islamisasinya harus dibayar mahal dengan darah dan peperangan. Proses ini juga tidak lepas dari kondisi Timur Tengah sendiri, sehingga Islam yang datang ke Nusantara tertatih-tatih, lelah dan mengalami kemunduran akibat perang.

Para ahli menggambarkan proses damai itu dengan dua cara, pertama masyarakat Melayu berkenalan dengan agama Islam kemudian menganutnya, kedua orang-orang asing seperti Arab, India, China dan lain-lain, yang telah memeluk agama Islam yang bertempat tinggal disuatu daerah Nusantara, dan melakukan perkawinan dengan penduduk setempat sehingga menghasilkan kelompok-kelompok Muslim.( Aris Munandar dkk, 2009)

Selain memalui perkawinan, jalan perdagangan juga menjadi awal utama dalam proses islamisasi pada bumi Nusantara. Sejak awal Masehi sudah ada rute-rute pelayaran dan perdagangan antara kepulauan Indonesia dengan berbagai daerah di daratan Asia Tenggara. Wilayah barat Nusantara dan sekitar Malaka sejak masa kuno merupakan wilayah yang menjadi titik perhatian, terutama karena hasil bumi yang dijual disana menarik bagi para pedagang, dan menjadi daerah lintasan penting antara Cina dan India. Sementara itu, pala dan cengkeh yang berasal dari Maluku, dipasarkan di Jawa dan Sumatra, untuk kemudian dijual pada pedagang asing. Pelabuhan-pelabuhan penting di Sumatra dan Jawa antara abad ke-1 dan ke-7 Mahesi sering disinggahi pedagang asing, seperti Lamuri (Aceh), Barus dan Palembang di Sumatra; Sunda Kelapa dan Gresik di Jawa. (Abdulgani Roeslan, 1983)

Pedagang-pedagang muslim yang berasal dari Arab, Persia dan India juga ada yang sampai ke kepulauan Indonesia untuk berdagang sejak abad ke-7 Mahesi, yang merupakan pusat utama lalu lintas perdagangan dan pelayaran. Melalui Malaka, hasil hutan dan rempah-rempah dari seluruh pelosok Nusantara dibawa Cina dan India, terutama Gujarat, yang melakukan hubungan dagang langsung dengan Malaka pada waktu itu. Dengan demikian, Malaka menjadi mata rantai pelayaran yang penting. Lebih ke barat lagi dari Gujarat, perjalanan laut melintasi Laut Arab.

 

Teori Tentang Islamisasi Nusantara
Dalam kajian ilmu sejarah, tentang masuknya Islam di Nusantara masih “debatable”. Selain itu juga masing-masing pendapat penggunakan berbagai sumber, baik dari arkeologi, beberapa tulisan dari sumber barat, dan timur.

Teori Gujarat
Asal-usul Islam yang berkembang di tanah Nusantara, menurut teori ini, adalah Gujarat (India) melalui jalur perdagangan dan perkawinan. Pijnappel, seorang sarjana dari Belanda, adalah orang yang pertama kali mengajukan teori ini. Mereka adalah muslim orang-orang Arab yang mempunyai madzhab Syafi’i dan menetap di India-lah yang kemudian membawa Islam ke Indonesia. Snouck Hurgronje, sejalan dengan teori ini, mengaitkan bahwa ketika Islam telah menguasi kota-kota pelabuhan yang terdapat di India Selatan, terdapat orang-orang muslim dari Dhaka yang bertepat tinggal disana sebagai perantara perdagangan Timur Tengah dan Nusantara, yang kemudian datang ke tanah Nusantara untuk menyebarkan agama Islam disamping menjadi pedagang. Menurutnya, awal Islamisasi Indonesia bermula pada abad ke 12-13 M. (Azyumardi Azra, 2002).

Bukti yang melandasi teori ini adalah ditemukannya persamaan bentuk, bahan dan ornamen batu nisan Malik Ibrahim di Gresik dengan batu nisan Al-Kazaruni di Cambay, Gujarat. Selain itu, adat istiadat India-Islam yang ada di Nusantara juga menjadi point tersendiri untuk memperkuat teori bahwa sangat mungkin masyarakat Melayu-Indonesia mengalamasi proses Islamisasi dari Gujarat.

Teori Arab
Teori ini sejalan dengan pendapat yang dibawakan oleh T. B. Arnold tentang asal-usul Islam di dunia Melayu yang bermula pada abad ke 7 M. Ia berpendapat bahwa Islam di wilayah ini berasal dari Coromandel, Malabar, dan tak lepas dari peranan orang-orang Arab Muslim. Dasar pendapatnya adalah peresamaan mazhab, yaitu mazhab Syafi’i yang kemudian menjadi pegangan Muslim di wilayah ini, dan pegadang menajdi aktor yang sangat penting dalam proses Islamisasinya. Argumennya didasarkan pada berita Cina yang menyebutkan bahwa abad ke-7 M ada seorang Arab yang memimpin pemukiman Arab di pesisir Barat Sumatra dan mereka melakukan perkawinan dengan penduduk setempat sehingga membentuk komunitas muslim. (Azyumardi Azra, 2002)

Sejumlah ahli Indonesia juga sepakat bahwa mereka menerima teori ini. Naquib al-Attas ialah seorang ahli yang sangat membela teori Arab tersebut, ia sangat yakin bahwa berdasarkan bukti-bukti literatur keagamaan tidak satu pun mencatat pengarang berasal dari India. Para pengarang yang dianggap oleh para sarjana Barat sebagai orang India atau yang menhasilkan karya-karya asli India, sebenarnya adalah orang Arab dan Persia. Bedasarkan nama-nama dan gelar para pembawa awal Islam ke Nusantara menunjukkan bahwa mereka adalah orang Arab atau Arab Persia.

Teori China
Melalui jalur perdagangan yang menjadikan tanah Nusantara sebagai tempat singgah para pedagang China dalam perjalanannya ke India dan Eropa, muncullah teori bahwa Islam di kawasan yang lebih dikenal Malaysia-Indonesia berasal dari China. Bukti dari teori ini ialah terdapat makam China Muslim, dan beberapa wali yang kemungkinan berdarah China. Selain itu adanya gedung Batu di Semarang (masjid gaya China), juga memperkuat teori ini. (sejarawan.wordpress.com)
Menurut penulis, teori tentang asal-usul Islam di Nusantara yang paling tepat adalah teori Arab. Islam yang kini berkembang di Malaysia-Indonesia adalah Islam yang langsung dibawa dari tanah Arab pada abad ke-7 M. Aktor penyebaran Islam di wilayah ini adalah para guru atau juru dakwah ‘prefesional’, disamping adanya peran pedagang Arab. Tentang batu nisan yang sama dengan yang ada di Gujarat, penurut penulis, ini tidak bisa serta merta menjadi bukti Islam berasal dari wilayah itu. Sekali lagi penulis lebih cenderung kepada Teori Arab pada abad ke-7 sebagai asal Islam Nusantara.

Islamisasi dan Berkembangnya Islam
Proses pengislaman pada seluruh kawasan Nusantara tidaklah seragam. Tingkat penerimaan Islam pada satu bagian dengan bagian yang lain bergantung pada waktu pengenalan dan watak budaya lokal yang dihadapi Islam. Di daerah pesisir, misalnya, kebanyakan masyarakat mempunyai budaya maritim dan sangat terbuka terhadap kehidupan kosmopolitan, maka Islam masuk dengan lebih mudah dibandingkang pada daerah pedalaman yang memiliki budaya agraris yang lebih tertutup.

Penerimaan Islam di Indonesia dapat dikatakan melalui adhesi, yaitu konversi ke dalam Islam tanpa meniggalkan kepercayaan dan praktik keagamaan yang lama. Pada umumnya orang-orang Melayu-Indonesia menerima Islam karena mereka percaya bahwa Islam akan memuaskan kebutuhan materi dan alamiah mereka. Di kalangan mayoritas penduduk, Islam hanya memberikan satu bentuk tambahan kepercayaan dan praktik yang dapat berubah sesuai dengan tujuan-tujuan tertentu.

Adalah sebagian besar juru dakwah Islam di Nusantara seperti halnya Wali Songo di pulau Jawa, yang mengenalkan Islam kepada penduduk lokal justru dalam bentuk kompromi dengan kepercayaan lokal yang banyak diwarnai takhayul atau kepercayaan animistik lainnya, bukan dalam bentuk eksklusivitas profetik. Berdasarkan bukti-bukti tersebut dapat diartikan bahwa Islamisasi di Nusantara merupakan suatu proses yang bersifat evolusioner, dan merupakan suatu proses yang panjang menuju kompromi yang lebih besar terhadap eksklusivitas Islam. ( Aris Munandar dkk, 2009)

Adapun mengenai cara atau saluran yang terjadi di Kepulauan Melayu-Indonesia sehinggan Islam dapat berkembang dengan baik (Badri Yatim, 2008), antara lain:

Islamisasi dan perkembangan melalui Jalur perdagangan
Pada taraf permulaan, saluran islamisasi adalah perdagangan. Kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M membuat pedagang-pedagang muslim (Arab, Persia, dan India), turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua Asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik saham dan kapal. Uka Tjandrasasmita menyebutkan bahwa para pedagang muslim banyak yang bermukim di pesisir Pulau Jawa yang pendudukya ketika itu masih kafir. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan mullah-mullah dari luar sehingga jumlahmereka menjadi banyak, dan karenanya anak-anak muslim itu menjadi orang Jawa dan juga mempunyai harta yang melimpah.

Islamisasi dan perkembangan melalui perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri saudagar-saudagar itu. Sebelum kawin, mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan, lingkungan mereka makin luas. Akhirnya timbul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim. Dalam perkembangan berikutnya, ada pula wanita muslim yang dikawini oleh keturunan bangsawan, tentu saja setelah masuk Islam terlebih dahulu. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan apabila terjadi antara saudagar muslim dengan anak bangsawan atau anak raja dan anak adipati, karena raja, adipati atau bangsawan itu kemudian turut mempercepat prosesi islamisasi. Demikianlah yang terjadi antara Raden Rahmat atau Sunan Ngampel dan Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan puteri Kawunganten, Brawijaya dengan puteri Campa yang menurunkan Raden Patah (raja pertama Demak) dan lain-lain.

Islamisasi dan perkembangan melalui Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Di antara mereka ada juga yang mengawini peteri-puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf, bentuk Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Di antara ahli-ahli tasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiran Indonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, dan Sunan Panggung di Jawa.

Islamisasi dan perkembangan melalui Pendidikan
Islamisasi dan berkembangnya Islam di Nusantara juga dapat dilihat dari segi pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiyai-kiyai, dan ulama-ulama. Di pesantren atau pondok itu calon ulama, guru agama dan kiyai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masing atau berdakwah ke tempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya, pesantren yang didirikan oleh Raden Rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan Sunan Giri di Giri. Keluaran pesantren Giri ini banyak yang diundang ke Maluku untuk mengajarkan agama Islam.

Islamisasi dan perkembangan melalui Kesenian
Saluran islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah atas pertunjukan yang dibawakan, tetapi hanya meminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapi di dalam cerita tersebut disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan Islam. Akhirnya Islam dapat berkembang dengan baik melalui jalan kesenian. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat islamisasi, seperti sasreta (hikayat, babad, dan sebagainya), seni bangunan, dan seni ukir.

Islamisasi dan perkembangan melalui Politik
Di Maluku dan Sulawesi Selatan, kebanyakan rakyat masuk Islam setelah rajanya memeluk agama Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangat membantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Samutra dan Jawa maupun di Indonesia bagian timur, demi kepentingan politik, kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non-Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam tersebut untuk menganut agama Islam.

Dengan demikian, Islam dapat berkembang dengan baik di tanah Melayu-Indonesia ini dan tetap mempertahankan corak khasnya. Bahkan Indonesia dewasa ini dikenal sebagai negara terbesar dalam jumlah kaum muslim terbanyak di dunia. Tidak berhenti sampai disini, perkembangan ini akan terus berkembang, sehingga mempunyai potensi besar dalam perannya di dunia Islam.

REFERENSI
Ø Aris Munandar, Agus, dkk, 2009, Sejarah Kebudayaan Indonesia, Religi dan Falsafah, Rajawali Pers, Jakarta
Ø Azra, Azyumardi, 2002, Islam Nusantara, Jaringan Global dan Lokal, Mizan, Jakarta
Ø http://islamlib.com/id/artikel/rekonstruksi-sejarah-masuknya-islam-ke-jawa
Ø http://sejarawan.wordpress.com/2008/01/21/proses-masuknya-islam-di-indonesia-nusantara/
Ø http://www.scribd.com/doc/23730932/Sejarah-Masuknya-Islam-Ke-Nusantara
Ø Roeslan, Abdulgani, 1983, Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia, Pustaka Antar Kota, Jakarta
Ø Yatim, Badri, 2008, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, PT. RajaGrafindo Persada,Jakarta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *