Sejarah Kenduri dan Maknanya

Dr. Agus Hermanto, Dosen UIN Raden Intan Lampung

Kenduri adalah kegiatan kumpul-kumpul atau mengumpulkan jamaah dengan cara diundang atau diberikan informasi sebelumnya, acara ini sebenarnya tanpa batas, dalam artian dapat dilakukan kapan saja. Namun biasanya kerap kali acara ini dilaksanakan setelah maghrib atau isya.

Mengapa hal ini dilakukan pada malam hari pada umunya, karena memang acara ini pada awalnya dilakukan untuk mengumpulkan masyarakat yang mana masyarakat pedesaan rata-rata luangnya di malam hari, karena masyarakat pedesaan waktu itu rata-rata kerjanya adalah menjadi petani.

Guyup rukun adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat desa, kebersamaan merupakan hal yang selalu dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat pedesaan pada umumnya, sikap toleransi, kebersamaan, gotong royong itu merupakan ciri khas masyarakat pedesaan yang dijunjung tinggi dan dibudidayakan warisan dari nenek moyangnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana asal muasal kenduri? Bagaimana pertumbuhan dan perkembangan kenduri pada saat ini?

Secara historis, kenduri merupakan ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Nusantara, dalam rangka beribadah sesuai ajaran Hindu yang dilakukan sebagai media untuksesajian dan menyembah Tuhan mereka, karena umat Hindu merupakan agama mayorits di bumi nusantara ini sebelum datangnya umat Islam dan ajarannya.

Sebagai umat miniritas di nusantara ini, penyebaran Islam dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya melalui perdagangan, perkawinan dan termasuk dengan mengadopsi kegiatan genduri yang dengan cara menginlamisasikan budaya, dengan cara tidak merubah kegiatannya, namun substansinya yang dirubah, misalnya dahulu kegiatan ini dilakukan untuk ritual dan sesajian kemudian sesembahan, dirubah dengan istighasah, dzikir, tahmid, tahlil, takbir, tasbih dan doa bersama.

Kenduri adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang muslim di Indonesia dalam rangka untuk bersyukur atau sebagai lahan shadaqah. Kegiatan kenduri pada dasarnya penuh dengan filosofi yang tersirat dan tidak tersurat. Maksudnya bahwa Nabi Muhammad tidak pernah melakukan kenduri selama hidup dan menyebarkan agama Islam, bahkan al-Qur’an dan hadits pun demikian, tidak mengajarkannya.

Perlu kita ketahui, bahwa ibadah itu terbagi pada 1) ibadah mahdhah mutlaqah dan 2) ibadah mahdhah ghairu muqayyadah. Ibahadah mahdhah mutlaqah adalah ibadah yang sudah jelas aturannya dalam dalil nash baik al-Qur’an maupun al-Sunnah, contohnya ibadah shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya, sudah ada perintahnya dan sudah ada tata cara pelaksanaanya. Sedangkan ibadah mahdhah ghairu muqayyadah adalah suatu ibahad yang ada perintahnya namun tidak ada cara pelaksanaanya, seperti perintah dzikir, perintah shadaqah, perintah berbuat baik dan sebagainya.

Kenduri merupakan kegiatan ibadah mahdhah ghairu muqayyadah yang mana aktivitasnya jelas, yaitu dzikir, do’a, bersyukur, namun pelaksanaannya tidak terikat, sehingga dapat dilakukan dengan beberapa cara yang diantaranya adalah kumpulnya jamaah pada malam hari dalam rangka do’a bersama dalam rangka tasyakuran untuk mewujudkan kesyukuran itu kemudian pulang dibawakan berkat yang dalam artian adanya doa dan dzikir bersama dengan itulah nasi yang dibawa pulang itu akan membawa berkah.

Berkah itu adalah tambahnya nikmat, sehingga orang yang mendapatkan berkat dia berarti akan diberi tambahan nikamat dari Allah, sedangkan nasi atau sejenisnya yang sudah didoakan kemudian mengharapkan adanya barokah, bahwa nasi atau makanan itu akan mendatangkan kesehatan, kenyang dimakannya, membahagiakan keluarganya, itulah nikmat atau barokah yang didapatkan ketika setelah ia pulang dari kenduri.

Melalui peringatan atau perayaan kenduri itu berkaiatan dengan identitas sebagai Muslim diekspresikan sebagai symbol-simbol tertentu, yaitu misalnya harus ada beberapa jenis makanan:

  1. Apem, berasal dari kata al-afwu, artinya maaf, apem biasanya harus ada di setiap kenduri acara selamatan orang yang meninggal, dengan harapan jika sang mayyit memiliki salah kepada jamaa’h untuk dimaafkan.
  2. Iwel-Iwel, merupakan do’a bagi kedua orang tua yang dalam bahasa Arab disebut waliwalidaiyya, maka biasanya acara kenduri selalu diawali dengan kirim doa kepada orang tua, khususnya kedua orang tua atau yang sudah meninggal.
  3. Jadah, yang diambil dari kata zaada-yaziidu, karena lisan orang kampong sangat sulit membedakan kata za dan ja, yang berarti tambah atau bertambah, maksudnya dengan keikhlasan hati dan tertatanya hati yang kemudian akan bertambahnya keimanan dan ketakwaan, dan itu adalah esensi dari barokah itu sendiri.
  4. Srundeng, berasal dari bahasa Arab yaitu saara al-diin, berjalan di atas jalannya agama Allah, yaitu jal;an yang lurus, yang hanif yang mustaqim, serundeng yang berarti adalah makanan yang dibuat dari kelapa yang diparut yang rasanya sangat gurih dan ini merupakan bumbu untuk memadukan antara satu makanan dengan makanan yang lain, walaupun sebagai pelengkap, namun sangat berarti dan memberikan manfaat serta ciri khas tersendiri pada makanan yang hendak dijadikan berkat.
  5. Bahkan terkadang ada air yang didoakan oleh jamaah yang dianggap akan mendatangkan barokah untuk memberikan barokah kepada rumah yang ditempati, biasanya ini dilakukan dalam rangka yaitu pindah rumah, dengan adanya doa bersama, dzikir bersama, kemudian ditiuplah air yang sudah disiapkan dalam bejana atau teko.
  6. Bubur merah dan putuh, juga memberikan isyarah bahwa kehidupan itu tidak selamanya bersih, mulus, kadang sulit, juga kadang ada kemudahan, sehingga adanya kebahagiaan dan kenikmatan di dalamnya.
  7. Kuluban, dalam artian adalah menata hati, yang diambil dari kalimat qalbu, yang jama’nya adalah qulub, yaitu hati, maksudnya ketika kenduri berarti kita secara totalitas berdoa, berdzikir dengan khusus untuk mendapatkan ketenangan hati, baik bagi yang didoakan maupun yang berdoa, sama-sama kan mendapatkan barokah dari Allah.
  8. Takir, adalah biasanya menggunakan daun jati atau pisang, yang mengandung makna untuk mendapatkan jati diri, selain daun jati itu akan memberikan kelezatan pada nasi tersebut, juga mengisyarahkan kebersamaan, baik sang kaya maupun yang miskin akan mendapatkan wadah yang sama yaitu daun. Bahkan mengandung beberapa pelajaran yang mulia, sehebat apapun seseorang yang tidak terbiasa membungkus takir, maka tidaklah akan bisa.
  9. Ayam panggang, juga mengisyaratkan adanya keadilan, berlatih ikhlas, serta adanya kesungguhan, bagaimana tidak, satu nayam harus dibagi-bagi, harus dipotong-potong dengan cara yang arif dan bijak, sehingga orang yang ikut kenduri harus sma-sama ikhlas, karena ketika daging ayam itu dibagi tidak mungkin semuanya akan mendapatkan paha, ada yang mendapatkan paha, dada, bahkan ada yang mendapatkan ceker atau kepala. Bahkan kenapa harus ayam panggang, bukan bebeka atau angsa, atau sapi atau kambing, ini juga mengandung sebuah pelajaran berharga, bahwa daging ayam yang sudah di mask yang masih muda akan udah dipotong-potong dan dibagi-bagi, orang yang membagipun tidak sembarangan, ia bahkan membaginya dengan tidak menggunakan pisau atau alat tajam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *