REZEKI, HARTA DAN PENGHASILAN

Ahmad Burhanuddin, S.H.I., M.H.I, Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung

 

Dalam kehidupan modern seperti ini, kebahagiaan dunia diidentikkan dengan terpenuhinya segala kebutuhan, baik lahir maupun batin hal ini yang mengakibatkan banyak masyarakat menganggap bahwa orang yang sukses dalam kehidupan ini adalah orang yang banyak penghasilannya dan orang yang banyak rezekinya adalah orang yang hartanya melimpah. Memang tidak bisa kita pungkiri sebagian besar manusia menginginkan rezeki berupa harta yang banyak dan melimpah karena memang setiap manusia mau tidak mamu pasti sangat membutuhkan penghasilan dan harta untuk menopang keberlangsungan hidup. Apakah Rezeki manusia hanya berupa penghasilan dan hartanya saja?

Syaikh Muhammad Mutawalli As-Sya’rawi di dalam kitabnya yang berjudul Ar-Rizku mengungkapkan beberapa hal terkait rezeki, harta dan penghasilan.

Rezeki adalah apa yang dapat dimanfaatkan oleh manusia, apakah halal atau haram, baik atau buruk. Semua yang tidak kita manfaatkan, meskipun kita memilikinya itu bukan rezeki kita akan tetapi rezeki orang lain. Harta yang tidak memberi manfaat kepada kita itu bukan rezeki kita sebagai contohnya harta warisan yang kita tinggal mati.

Rezeki bukan hanya harta saja akan tetapi segala karunia Allah SWT yang diberikan kepada kita adalah rezeki, karena apa? karena kita dapat memanfaatkannya dan mencukupi kebutuhan kita. Apa yang kita sedekahkan di jalan Allah adalah rezeki, kesehatan juga rezeki, pandangan jauh dan sempit juga rezeki, kemurahan hati juga rezeki serta apa yang kita lihat di alam raya ini adalah rezeki karena itulah mengapa dikatakan bahwa rezeki itu adalah semua yang dapat anda manfaatkan dan rezeki secara mutlak;

Ada perbedaan antara hasil usaha dan rezeki seseorang atau antara kerja dan rezekinya. Kita tidak boleh mengatakan bahwa hasil usaha seseorang adalah rezekinya. Adakalanya uang harang yang diperoleh karena rasa takut dari kemiskinan merupakan penghasilan namun itu bukan rezeki, kita harus melihat masalah rezeki kepada seluruh aspek dan seginya dan dengan bahasa matematik niscaya kita akan menemukannya merata, kita juga harus melihat pada kunci rezeki itu, yaitu pada mutu atau kualitasnya.  Rasa kurang puas seseorang dengan apa yang dimilikinya itu karena hanya memusatkan rezeki itu pada hal-hal yang terbatas saja. Mereka mengabaikan banyak rezeki yang lain yang bisa mereka manfaatkan. Kalau pandangan mereka jeli tentu tidak akan berkobar rasa dengki diantara mereka.

Oleh karena itu, dari beberapa penjelasan diatas tentang rezeki, harta dan penghasilan telah jelas bahwa anggapan masyarakat tentang rezeki, harta dan penghasilan banyak yang keliru dan dari sini juga dapat kita ambil pelajaran bahwa dalam mejalani kehidupan ini baiknya kita syukuri apa yang kita miliki dan nikmati apa yang ada,  maka hidup akan benar-benar menjadi anugerah untuk kita, kita tidak usah sibuk memikirkan rezeki seperti harta dan penghasilan orang lain apalagi iri dengan rezeki yang didapat orang lain. Banyak orang yang hidupnya tidak bahagia bukan karena dia tidak diberi rezeki oleh Allah tapi karena dia terlalu sibuk memikirkan rezeki orang lain sedangkan rezekinya tidak dipikirkan dan tidak berusaha memanfaatkannya. Dia selalu merasa sekan-akan rumput dihalaman tetangga nampak lebih hijau dari pada halamannya sendiri. Padahal belum tentu. itulah yang membuat hati menjadi resah, sempit  dan tidak bisa tenang.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *