PERASAAN TAK BERDAYA

PERASAAN TAK BERDAYA
By. Satria hadi lubis
Hari-hari ini banyak suami, istri, orang tua dan anak yang merasa tak berdaya ketika keluarganya diserang virus Covid 19. Apalagi jika sampai orang yang dicintainya itu meninggal dunia tanpa mampu berbuat apa-apa.
Sudah berusaha untuk mematuhi protokol kesehatan dan mendekatkan diri kepada Allah tapi masih kena juga. Sungguh ini adalah musibah yang membuat kita merasa tak berdaya.
Perasaan tak berdaya memang bentuknya macam-macam. Selain karena Covid 19, ada juga karena berbagai persoalan hidup. Yang pada tingkat tertentu membuat kita menyerah dalam ketidakberdayaan.
Ada suami yang merasa tak berdaya menafkahi keluarganya karena harga-harga naik, ada istri yang merasa tak berdaya ketika suaminya menikah lagi, ada orang tua yang merasa tak berdaya karena anaknya bandel dan susah dinasehati, ada orang yang merasa tak berdaya karena di-bully orang lain, sampai ada rakyat yang merasa tak berdaya karena dizalimi para penguasa.
Secara garis besar perasaan tak berdaya ada dua. Pertama, merasa tak berdaya tanpa campur tangan kezaliman orang lain. Kedua, merasa tak berdaya karena campur tangan kezaliman orang lain. Seperti sakit akibat Covid 19, mungkin ini relatif tanpa campur tangan kezaliman dari orang lain. Namun seperti yang saya alami, yakni istri (Ustadzah Kingkin Anida) yang di penjara dan sampai sekarang belum bebas. Ini merupakan jenis ketidakberdayaan yang kedua, yaitu adanya campur tangan kezaliman dari orang lain. Mosok hanya karena copy paste tulisan omnibuslaw yang katanya hoax, istri saya sampai harus mendekam di penjara selama 9 bulan.
Sungguh semakin kesini, saya merasa semakin tak berdaya dengan apa yang terjadi kepada istri saya. Berusaha membantu istri tetap saya lakukan, tapi saya merasa belum signifikan menolongnya, sehingga muncul rasa bersalah karena tidak mampu menolong orang yang dicintai.
Ada hati yang kosong bercampur marah yang saya rasakan karena dipisahkan secara paksa akibat perbuatan zalim orang lain. Itu juga yang mungkin dirasakan oleh keluarga para ulama dan ustadz yang saat ini sedang dipenjara karena kasus undang-undang ITE atau kerumunan covid. Mungkin kita akan lebih ikhlas jika rasa tak berdaya itu “murni” akibat takdir Allah, tanpa adanya campur tangan kezaliman orang lain, seperti contohnya meninggalnya orang yang kita cintai karena sakit.
Nabi Muhammad saw juga pernah mengalami rasa tak berdaya pada dua jenis tersebut. Contohnya ketika beliau sakit dan akhirnya wafat. Ini jenis ketidakberdayaan yang pertama. Untuk jenis ketidakberdayaan yang kedua, contohnya ketika terjadinya Perang Badar. Di tengah-tengah berlangsungnya peperangan, beliau berdoa sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Abu Bakar ra yang mendampingi beliau sampai berkomentar, “Aku belum pernah melihat Rasulullah saw berdoa sesungguh itu.”
Beliau saw berdoa di tengah-tengah Perang Badar : “Ya Allah, penuhilah untukku apa yang Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, berikan apa yang telah Kau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau biarkan pasukan Islam ini binasa, tidak ada lagi yang menyembah-Mu di muka bumi ini” (HR. Muslim dan Ahmad). Rasulullah saw pada waktu itu merasa tak berdaya dengan kezaliman kaum kafir Quraisy yang keterlaluan sampai tega memerangi beliau, padahal beliau diutus untuk menyelamatkan mereka (umat manusia). Lalu beliau pasrah tawakal dan berdoa. Mengembalikan semuanya itu kepada Allah yang Maha Berkehendak.
Ini juga sepertinya yang harus saya dan teman-teman lakukan jika merasa tak berdaya, baik karena campur tangan kezaliman orang lain atau tidak.
Pasti ada hikmah dari ketidakberdayaan kita, yang ujung-ujungnya untuk kebaikan kita juga (menambah iman, kesabaran, taubat, solusi yang lebih baik, optimisme, dan lain-lain). Daripada kita melawan takdir tersebut dengan tindakan membabi buta dan protes kepada Allah. Memang kita harus berusaha maksimal, tapi tawakal juga mesti kita lakukan.
Doaku untuk semua teman-teman yang hari-hari ini merasa tak berdaya, baik dengan atau tanpa campur tangan kezaliman orang lain :
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebani kami dengan beban yang berat, sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir” (Qs. Al Baqarah ayat 286).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *