Memaknai Sejarah Bedug dan Kentongan

Dr. Agus Hermanto, Dosen UIN Raden Intan Lampung

Bedug adalah sebauh alat yang terbuat dari kulit binatang, baik kambing atau sapi pada umumnya. Bedug dibuat dengan cara disamak, yaitu dikeringkan sampai beberapa hari, kemudian direndam dalam beberapa waktu yang kemudian diletakkan disebuah drum atau kayu biasanya yang sudah diberi lubang sesuai kebutuhan yang kemudian diletakkanlah diujung kayu yang berlubang tadi dan dirapikan hingga berbunyi suara “dug-dug-dug” semakin erat dalam pemasangannya, maka akan semakin nyaring bunyi bedug tersebut. Diberi nama bedug sesuai dengan bunyi dari alat tersebut yang kemudian masyhur dengan sebutan bedug.

Adapun kentongan adalah sebuah alat yang terbuat dikayu yang dapat menghasilkan bunyi, menurut beberapa keterangan, bahwa tidak sembarang kayu dapat menghasilkan suara nyaring. Nama kentongan juga identic dengan bunyinya yang bersuara “tong-tong-tong” kemudian disebutlah kentongan.

Bedug dan kentongan sering kita kenal dan kita ketahui di masjid-masjid. Mengapa demikian, pergabungan antara bedug dan kentongan bukanlah sebuah hal yang tiada makna dan artinya, namun penuh dengan filosofinya. Bedug dan kentongan hanyalah sebuah media dakwah, sebagaimana sepeaker atau towak yang ada di masjid. Mengapa demikian?

Karena bedug dan kentongan dipadukan dengan beberapa tujuan.
Kentong adalah sebuah alat yang bersuara sangat keras, sehingga nyaris tidak ada sumber suara yang lebih keras daripada kentongan, di masa itu. Namun karena kentongan adalah alat yang multi fungsi, sehingga kentongan tidak dapat masuk masjid kecuali ada bedug.

Kentongan dikatakan multi fungsi, karena kentongan tidak hanya berada di wilayah masjid, karena ia kadang berada di kelurahan atau di rumah kamituo serta di gardu. Kenongan adalah sebuah alat yang memberikan isyarah, jika di rumah kamituo ada suara kentongan “tong, tong, tong” yang kerap lagi tertip kemudian diiringi setelahnya tujuh kali pukulan, berarti sebuah isyarah ada saudara sekampung yang meninggal. Jika ada di ujungnya ada pukulan tiga kali, maka sebuah isyarah yang menunjukkan kerja bakti atau ronda. Jika kentongan tersebut berbunyi kerap lagi tertib yang tidak ada ujungnya, berarti ada isyarah bahaya atau darurat, mungkin ada maling, mungkin kebakaran atau kemungkinan adanya bahaya-bahaya lainnya.

Karena suara kentong yang keras itu dibutuhkan, dan untuk membedakan antara satu isyarah dengan isyarah yang lain, untuk membedakannya ditambahlah dengan bedug, agar terdengar suara beda dengan yang lainnya. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa bedug dan kentongan itu ada? Dan apakah bedug dan kentongan itu sebuah syari’ah yang diajarkan oleh Nabi, yang berlandaskan al-Qur’an dan hadits?

Adanya bedug dan kentongan adalah sebagai media untuk mengundang perhatian masyarakat Islam yang memberinya isyarah bahwa sudah masuknya waktu shalat, bedung dan kentongan selalu dipukul ketika menjelang waktu shalat, jika mungkin dahulu nsudah tersedia sebiah alat yang menghasilkan sumber suara selain kentongan dan bedug, towak misalnya atau sejenisnya, mungkin saja para ulama terdahulu tidak menggunakannya sebagai alat untuk memberikan isyarah waktu masuknya shalat.

Bedug dan kentongan buikanlah sebuah ajaran Islam yang di bawa oleh Nabi dan berdasarkan al-Qur’an dan al-Sunah, bahkan Nabi tidak pernah mengajarkannya. Tapi bedug dan kentongan adalah sebuah media dakwah yang digunakan oleh para ulama Indonesia yang merupakan kearifan lokal, dikatakan kearifan lokal karena wujudnya bedug dan kentongan tidaklah bertentangan dengan hukum Islam, bukan untuk kemaksiatan dan bukan pula untuk hal yang membahayakan, melainkan bedug dan kentongan merupakan hal yang arif lagi baik.

Terlepas setuju atau tidaknya adanya sebuah kentongan dan bedug di masjid-masjid dan surau-surau, itu semua adalah media yang digunakan oleh para ulama’ para wali dulu dalam menyebarkan agama Islam di pulau-pulau di Indonesia. Keberadaan bedug dan kentongan bukan membuat kita harus alergi atau mengatakan tidak seruju dengan dalil bahwa tidak ada ajarannya bahkan tidak ada dalilnya dalam al-Qur’an maupun al_sunnah, karena media ini hanya sebuah inspirasi yang dibuat sedemikian rupa dengan tidak mengurangi esensi nilai-nilai dari ajaran Islam itu sendiri. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *