Cerpen : Santri Pejuang

Karya Devi Anggraini

Tak terasa tiga tahun telah berlalu dan saatnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku. Aku baru saja menyelesaikan sekolah menengah pertamaku.

Pagi yang cerah…burung berkicau serta udara sejuk yang mengiringi setiap hembusan nafasku. Lantunan sholawatpun ikut membersamai dengan ditemani secangkir teh dan tak lupa sepotong roti yang jadi penyempurna pagi itu. Kuangkat cangkir yang menghangatkan tanganku, aroma teh yang menusuk ke jalur pernafasanku. Begitu nikmat dan aku bersyukur masih dipertemukan dengan hari ini.

Setelah tegukan terakhir , tiba-tiba terdengar suara dari ruang tamu. Suara yang tak asing lagi ditelingaku. Iya dia ayahku, sosok yang selalu aku jadikan panutan dalam hidupku . Beliau selalu mengajarkanku untuk berbuat baik kepada siapapun walaupun  mereka tak demikian. Kerap kali aku selalu membangkang apa yang beliau katakan perihal berbuat baik kepada siapapun.

Tapi itu dulu saat aku masih kecil dan semakin kesini aku mulai sadar betapa pentingnya berbuat baik kepada orang karena kata ayah apapun yang kita lakukan karena Allah maka Dia akan mempermudah setiap jalan kita. Dan ternyata Allah itu peka banget loh, contohnya nih saat itu aku lagi pengen banget makan sambel pete ehh tiba-tiba ayah pulang bawa pete banyak banget , maasyaallah ngga nyangka kan…heheh just kidding  kok biar kalian yang baca ngga serius banget.

Okee lanjut ke cerita awal yaa…

Aku memenuhi panggilan ayah yang sedang berada diruang tamu dan kulihat ibupun duduk disamping ayah, nampaknya pembicaraan yang serius. Ayah menyuruhku untuk duduk sembari menyodorkan kertas kepadaku. Penasaran akan  kertas itu akupun menanyakan perihal isinya kepada ayah, ternyata ayah dan ibu sudah sepakat ingin menyekolahkanku di salah satu SMA unggulan di Kabupaten Muara Enim bahkan mereka sudah menyiapkan kostan untukku.

Aku sangat bahagia karena untuk masuk sana adalah salah satu dari impianku. Bagaimana tidak selain fasilitasnya lengkap aku juga berteman dengan orang-orang pintar. Itulah obsesiku, aku telah mengikat janji kepada beberapa kawan untuk sekolah disana. Namun, seperti kata pepatah : kering setahun dibasahi hujan sehari. Begitu pula dengan tekadku. Disaat segala sesuatu sudah disiapkan untuk mendaftarkan diri di sekolah impian itu secara tiba-tiba mimpi itu teredam. Dan tertuju pada lembaga pendidikan yang membuat banyak orang terkejut terutama ayah dan ibuku. …

Itu bermula ketika aku kumpul dengan teman sekolahku. Tak sengaja salah satu temanku mengatakan bahwa dia ingin masuk pesantren. Pesantren ?? aku terkejut akan pernyataan temanku tersebut. Sepanjang jalan aku terus kepikiran dengan kata “pesantren”. Memang itu tidak asing ditelingaku tapi kali ini ada yang berbeda dengan kata itu. Dua hari kemudian aku bermain ke tempat temanku yang akan masuk pesantren itu sebut saja Fatimah namanya dan bertanya banyak hal mengenai pesantren karena ia telah beberapa hari menetap disana.

Setelah dari rumah Fatimah entah mengapa aku terus terbayang-bayang keinginan untuk masuk pesantren mengikut jejak Fatimah. Terkadang terbesit pikiran “pengen jadi santri, yang tiap harinya ngaji, belajar ilmu agama dan menghafal Al-Qur’an “ . Tapi…

Pergulatan batin terus terjadi dalam diri, antara melanjukan mimpi sekolah di SMA unggulan atau masuk pondok pesantren. Melihat keluargaku yang kurang mendukung jika aku mondok. Hmmm entahlah sepertinya aku harus bermunajat dulu.

Keesokan harinya..

Aku telah mengambil keputusan bulat :

“Bismillah, aku harus mondok”

Pagi itu aku menuju meja makan Nampak disana ada ayah, ibu dan kedua adikku. Setelah makan aku langsung membicarakan kembali perihal kemana aku akan melanjutkan sekolah.

“Yah, aku ingin sekolah di Pesantren “

“ pesantren??”

Ujar ayah dengan wajah penuh kaget.

“iya” jawabku singkat

“ kamu serius ?”

Tanya ayah lagi seakan tidak percaya.

“aku serius yah”

Jawabku dengan nada yang tak bersemangat.

“tapi kan ayah dan gurumu sudah mendaftarkan kamu di SMA malah ayah sudah siapkan kostan”

Belumku menjawab ayah kembali bertanya

“emang kamu mau mondok dimana?”

“Di Barokah Al-Haromain yah, yang deket tempat Jihan itu.

(Jihan adalah sepupu ayahku)

“coba dipikirkan lagi”

Ayah langsung pergi dan meninggalkan meja makan, ibupun demikian.

Serasa hening seketika, dari awal aku memang sudah menduga kalau ayah tidak akan setuju dengan keputusanku ini  tapi disisi lain akupun ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi dan mungkin disini jalannya. Tujuanku satu yaitu ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi karena aku sadar selama ini telah banyak waktu yang ku sia-siakan untuk mengerjakan sesuatu yang tidak berguna lebih-lebih mengabaikan tuntunan agama. Semoga niat baik ini diijabah.

Jalan yang kutempuh memang berat terutama restu dari kedua orang tua, aku ingat bahwa  Ridhonya Allah terletak pada ridho orang tua. Mungkin pertimbangan mereka jauh lebih matang dari apa yang aku dipikirkan. Terlebih teman-temanku yang sontak terkejut akan pilihanku tersebut karena dari awal kami sudah berjanji akan satu sekolahan. Hanya nenek dan kakekku yang sangat mendukung aku untuk masuk pondok pesantren, memang dari kecil mereka ingin aku sekolah dengan latar belakang agama yang kuat tapi kedua orang tuaku selalu menundanya dengan alasan aku masih kecil dan mereka belum berani melepasku mondok.

Dan sekarang aku pasrah, aku nurut apa kata orang tuaku untuk melanjutkan pendidikan di SMA pilihan mereka yang awalnya SMA impianku. Berusaha untuk berpikir positif dengan apa yang akan ku jalani kedepannya nanti. Karena aku yakin pilihan mereka pasti yang terbaik untukku.

***

Sebuah keajaiban tak ada angin tak ada hujan  tiba-tiba ayah dan ibu mengizinkanku mondok  dengan syarat aku harus sungguh-sungguh karena banyak kejadian di tempatku santri kabur dari pondok karena ketidaksanggupan fisik dan batin.

Alhamdulillah aku sangat bahagia sekali mendengarnya, terima kasih ya Allah engkau memang tidak pernah tidur. Percayalah setiap niat baik pasti Allah akan beri jalan walaupun sebelumnya akan ada rintangan, semata itu karena Allah ingin kamu lebih dekat dan yakin kepada-Nya.

***

Singkat cerita setelah seminggu aku menjadi santri serasa setahun bagiku maklumlah aku benar-benar belum bisa menyesuaikan kehidupan ku disana. Harus bangun pagi, tahajud, sholat sunnah, ngaji, piket pagi ditambah dengan puasa-puasa sunnah  Huuh.. itu terasa berat bagiku. Semua kegitan disana sudah tersistem dari kita bangun pagi sampai tidur lagi. Bagiku disana benar-benar dituntut mandiri dan dididik keras terasa berat untuk melanjutkan perjuangan ini. Sempat terbesit dibenakku untuk kambur dari pondok tapi jika demikian apa bedanya aku dengan tetanggaku yang melakukan hal demikian bukankah aku tidak ingin hal tersebut terjadi padaku.

Namun nasehat orang tuakulah yang menjadi semangatku untuk terus bertahan dan belajar menyatu dengan kehidupanku yang sekarang. Seiring berjalannya waktu akupun mulai terbiasa dengan kegiatan yang rutin aku jalani di pesantren tak ada lagi kata kabur dipikiranku dan Alhamdulillah banyak hal yang kudapat khusunya mengenai prinsip hidup dan kepribadian. Umpamanya yang dulunya hanya memikirkan keduniawian, sekarang sudah mengerti bahwa tujuan hidup utamanya adalah mencari keselamatan akhirat.

Thanks God For this opportunity.

Love You Dad and Mom

 

 

 

 

 

 

One thought on “Cerpen : Santri Pejuang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *