Bermasyarakat Dengan Tawadhu

Dr. Agus Hermanto, M.H.I, Dosen Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung

Tawadhu’ merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita bersosial dan bermasyarakat untuk meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Ta’ala, namun sifat ini jarang sekali diminati dan dilakukan oleh kita, tawadhu’ adalah rendah hati dan bersikap halus, lemah lembut kepada orang lain walaupun tidak harus merendahkan kepada orang lain.

Karena dengan bertawadhu’ kita akan menjadi mulia dan dimulyakan oleh Allah swt., walaupun tidak harus menunjukkan atas apa yang kita miliki atau kita sandang, baiki harta maupun jabatan, tawadhu’ adalah lawan dari sifat sombong, congkak, takabbur dan ujub, karena kesombongan akan dapat menghancurkan kita yaitu melakukan sesuatu atau bersikap dengan kapasitas yang tidak kita miliki dan kita mampu.

Kita sangat mengenal atas kepribadian baginda Rasulullah saw., yang selalu rendah hati, bahkan ketika Aisyah ra., ditanya tentang bagaimana kehidupan Nabi Muhammad ketika di rumah, maka Aisyah menjawab, bahwa Nabi Muhammad melakukan apa-apa yang biasa dilakukan oleh laki-laki umumnya ketika di rumah. Diriwayatkan bahwa Nabi Muhammad juga menjahit bajunya sendiri, serta senantiasa membantu pekerjaan istrinya di rumah, dan hal ini merupakan hal yang dapat kita contoh dan aplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Tawadhu’ adalah ketika kita dapat menghormati kepada orang lain, yaitu ketika kita bertemu dengan orang yang lebih tua dari kita kita hormati dan kita hargai, kita duduk ditempat yang lebih rendah dari tempat duduknya, kita menyapanya sebelum harus disapa, kita tundukkan kepala kita ketika melewati di depannya serta bertutur dengan tidak lebih keras suaranya yaitu di bawah suaranya, ketika kita bertemu dengan orang yang lebih kecil dari kita, bagaimana kita dapat menyayanginya dan tetap menghargai dan menjaga perasaannya, baik lebih muda usianya, lebih rendah jabatannya atau lebih rendah strata sosialnya, karena tawadhu juga dapat diartikan ketika orang kaya mau berkumpul gengan orang fakir, ketika seorang pejabat mau memperhatikan dan tanpa segan berkominikasi sopan terhadap bawahannya, itulah gambaran tawadhu’

Tawadhu’ digambarkan seperti bintang yang ada di langit yang begitu tinggi dan tidak dapat diukur seakan-akan ia berada di dalam kejernihan air, jangan seperti awan yang seakan akan ia berada di derajat yang paling tinggi melebihi bintang-bintang, namun ketahuilah bahwa ia berada di derajat yang tidak pasti dan selalu berpindah-pindah yang sejatinya tidak lebih tinggi dari bintang-bintang. Wallahu ‘A’lam. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *