Si ‘Lemousin’ dari Desa Astomulyo

LAMPUNG TENGAH (WAWAI.ID) – Dusun I Astomulyo Kecamatan Punggur Kabupaten Lampung Tengah dikenal sebagai sentra penggemukan sapi. Usaha penggemukan sapi sudah terjadi turun temurun sejak tahun 1992 yang bermitra dengan PT Great Giant Live Stock (GGL), anak perusahaan dari PT Great Giant Food (GGF).

Hampir 85 persen penduduknya bermata pencaharian penggemukan sapi. Kini usaha tersebut melibatkan kalangan anak muda. Mereka kini telah dapat berpikir membangun desanya sendiri dengan mengembangkan usaha yang sudah diwariskan dari tetua mereka.

Bukan tidak beralasan mereka berpikir demikian, Sartono (30) pemuda Dusun I Astomulyo mengatakan bisnis penggemukan sapi di kampungnya sangat menjanjikan. “Anak muda di sini rerata memiliki 10-20 ekor sapi di pekarangannya sendiri. Hanya dalam waktu 5-6 bulan sapi peliharaan kami sudah siap dijual,” kata dia.

Di kandang intensif, warga memeliharanya hingga memiliki bobot 500 sampai 700 kilogram. Setelah cukup usia, sapi ternakan warga Astomulyo siap dipasarkan dengan harga kisaran Rp23 juta ke atas. Dalam seminggu dari Desa Astomulyo, dikeluarkan 24 ekor secara rutin untuk memenuhi kebutuhan pasar di Wilayah Bengkulu, Padang, Jakarta, dan Pulau Jawa.

Artinya, peternak di sana bisa meraup omzet sekira Rp500 juta per minggu. Waw!! Nilai yang fantastis. “Memang mulanya kami berpikir menjadi peternak sapi itu tidak bergengsi, tetapi setelah kami mendapat pemahaman dari tetua kami di sini dan kami terjun ke dalamnya, ternyata menjadi peternak sapi sangat menjanjikan,” kata dia lagi.

Sejak tahun 2015 kelompok pemuda mulai bergelut menjadi peternak sapi dan menghasilkan ternakan yang berkualitas tinggi. Hampir 80 persen peternak sapi di Desa Astomulyo dijalani oleh kelompok pemuda. Para pemuda ini menamai dirinya Kelompok Lemosin yang artinya Gede, Tangguh, dan Kuat.

“Kami terinspirasi dari jenis sapi Lemosin dan kami berharap kelak kami memiliki kekuatan karakter dalam diri dan kekuatan finansial sejak usia muda,” tuturnya.

Kemampuan para pemuda Lemosin itulah yang membuat tak tergiur untuk keluar dari desanya hanya untuk menjadi buruh kasar apalagi menjadi tenaga kerja Indonesia yang mengais rezeki di negeri orang.

Dikelola Seperti Perusahaan

Peternakan sapi di Dusun I Astomulyo, bisa dikatakan terbesar di Provinsi Lampung. Peternakan rumahan ini dikelola layaknya seperti sebuah perusahaan. Usaha rumahan tersebut dikelola secara terstruktur mulai dari pengadaan bibit, ketersediaan pakan ternak sampai pendistribusian lewat sebuah badan usaha yang bernama Kelompok Lemousin Live Stock.

Sarjono (49) ketua kelompok peternakan sapi di Dusun I Astomulyo mengatakan pengelolaan dari hulu sampai ke hilirnya sudah diatur sedemikian rupa. “Dan apapun yang berasal dari ternak sapi ini semuanya berbau duit, lantas mengapa bisnis ini harus ditinggalkan?” kata Sarjono.

Profesionalitas yang dikedepankan, membuat kelompok usaha warga setempat mendapatkan keistimewaan dalam hal akses peminjaman permodalan dari pihak bank. Tetapi pinjaman permodalan dari bank saja tidak cukup. Membidik para investor dirasa perlu digencarkan untuk pengembangan bisnis sapi.

Mereka menjamin bahwa setiap nilai investasi akan mendapatkan prosentase 25 : 75 persen. Berapapun nilainya, kelompok bisnis sapi ini akan mengelolanya secara profesional. (ENI MUSLIHAH/W1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *