Prospek Politik Generasi Milenial

Oleh : Rudi Santoso

Jurnalis MUI

Perubahan sosial dan politik dalam masyarakat adalah keniscayaan. Seberapa pun kecil skalanya, perubahan selalu terjadi karena peradaban masyarakat selalu dinamis. Saat ini, perubahan itu memasuki era milenial. Generasi ini umumnya ditandai oleh peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media, dan teknologi digital. Di sebagian besar belahan dunia, termasuk Indonesia pengaruh mereka ditandai dengan peningkatan liberalisasi politik dan ekonomi, meskipun pengaruhnya masih diperdebatkan para ahli.

Selain sekularisasi politik, dalam generasi Y ini juga terdapat polarisasi pemikiran, tingkat pengangguran yang tinggi di kalangan anak muda, dan menimbulkan spekulasi tentang kemungkinan krisis sosial-ekonomi jangka panjang yang merusak generasi milenial ini. Di Indonesia studi dan kajian tentang generasi millennial belum banyak dilakukan, padahal secara jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15-34 tahun saat ini sangat besar, 34,45%.

Dibanding generasi X, generasi millennial memang unik, hasil riset secara gamblang menjelaskan keunikan generasi ini ibanding generasi sebelumnya. Perbedaan itu antara lain soal penggunaan teknologi yang sudah menjadi kebutuhan pokok. Generasi dengan usia 15-24 tahun lebih menyukai topik pembicaraan yang terkait dengan music, film, olahraga, dan teknologi.

Sedangkan generasi milenial dengan usia diatasnya sedikit yakni usia 25-34 tahun memiliki kegemaran yang lebih variatif dalam menyukai topik yang mereka perbincangkan, termasuk didalamnya sosial politik, ekonomi, dan keagamaan. Konsumsi teknoligi informasi atau internet penduduk kelompok usia ini juga jauh lebih tinggi dibanding dengan kelompok penduduk yang usianya lebih tua. Hal ini menunjukkan ketergantungan mereka terhadap koneksi internet sangat tinggi.

 

 Karakteristik Generasi Milenial

Sebelum menggarap generasi milenial, partai politik perlu memahami ekspresi generasi ini. Pertama adalah menguasai media sosial. Generasi ini cepat merespon khususnya perkembangan teknologi digital dan secara optimal menguasai berbagai fitur aplikasinya secara bersamaan. Dengan prinsip praktis dan efektif, maka menurut mereka smartphone lebih menarik daripada televisi, karena merasa berhak memilih dan menentukan sendiri hiburan serta informasi yang diinginkan.

Disisi lain, ketergantungan terhadap media sosial merupakan indikasi tingginya interaksi komunikasi mereka. Fungsi media sosial tidak lagi sebagai saluran pertemanan, tetapi telah merangkap sebagai media edukasi, transaksi ekonomi bahkan ekspresi diri. Artinya dalam pandangan pola komunikasi politik, mereka akan cenderung kurang tertarik dengan model komunikasi konvensional yang searah. Sehingga perlu dikemas model komunikasi politik yang dinamis, hal ini juga dapat berwujud dialogis, testimoni maupun visual kreatif. Sosialisasi (kampanye) politik dengan gaya formal dan normatif mulai dihindari oleh generasi ini.

Kedua adalah aktif beropini. Hal lain yang juga menonjol dari generasi ini adalah keberanian dan kemampuan mereka mengelola isu dan opini di ruang publik dengan berbagai metodenya, baik dari persoalan pribadi, isu-isu sosial dan politik, hingga terhadap proses pengambilan kebijakan publik.

Generasi ini cukup jeli menggunakan berbagai saluran aspirasi yang tersedia, bahkan dapat menciptakan sendiri media alternatif. Nilai dan gagasan idealis menjadikan generasi ini lebih kritis menilai berbagai fenomena disekitarnya, sikap ini kerap diterjemahkan sebagai oposisi bahkan mungkin skeptis kepada para pejabat publik. Sejatinya kondisi ini sangat menguntungkan partai politik, politisi serta para pemangku kebijakan dengan memposisikan mereka untuk membantu menyerap aspirasi dengan jangkauan lebih luas dan lebih dalam.

Ketiga adalah personal branding. Keunikkan lain generasi ini adalah kesadaran untuk membangun citra dirinya termasuk komunitasnya. Sebagian kalangan menyebutnya sebagai sikap narsis, tetapi ada juga yang menganggap sebagai cara menjaga eksistensi diri. Konon, banyaknya followers akan meningkatkan status tertentu dalam pergaulan mereka. Personal branding adalah kebutuhan, menjadi beralasan sebagai upaya merawat reputasi dan menjalin relasi.

Cepatnya pergerakan informasi telah menembus batas-batas teritori hingga berbagai rupa manipulasi. Media sosial dan ruang publik kerap dijadikan saluran dalam memperoleh respon positif dari khalayak, disisi lain generasi ini cenderung memiliki rujukan atau idola dalam hal tertentu yang dianggap mampu mewakili passion mereka.

Keempat adalah menyukai tantangan baru. Menyukai tantangan baru dan cepat bosan menjadikan generasi ini dianggap tidak loyal. Disadari atau tidak, ini menggambarkan jiwa anak muda yang cenderung dinamis dan energik. Ketika melihat ada kesempatan, mereka akan berusaha untuk mencoba hal baru dengan berbagai motivasinya.

Generasi ini dianggap memiliki kreatifitas tinggi, cepat belajar dan mudah beradaptasi tetapi kerap dianggap tergesa-gesa. Dalam berbagai agenda sosial, mereka tidak segan menawarkan sesuatu yang anti-mainstream. Mengingat perkembangan zaman begitu dinamis dan tuntutan publik yang tidak terbatas, maka pendampingan dan pembinaan yang tepat pada generasi ini adalah modal investasi sosial dan politik jangka panjang. Penyediaan saluran untuk ide-ide dan energi positif mereka adalah cara bijak mendampingi dan berjalan beriringan.

Kelima, gerakan relawan. Dalam beberapa kasus yang menarik perhatian publik, generasi ini telah berhasil mempelopori gerakan kerelawanan dibidang sosial maupun politik. Adapun sebagian contoh seperti, penggalangan biaya berobat pasien kurang mampu, mengawal proses penenggakkan hukum, advokasi masyarakat sekitar pertambangan hingga menjadi relawan pengajar di daerah pelosok dan sebagainya. Mereka bergerak tidak menggunakan kelembagaan formil tetapi lebih pada ikatan kolektivitas yang lebih fleksibel, viral, dan bermotif pada isu khusus.

Gerakan ini adalah kepekaan mereka pada isu-masalah yang dianggap peran negara kurang -bahkan abai-terlibat didalamnya. Dalam ranah politik pun mereka aktif menyuarakan sikap politik etis, memantau penyelenggaraan pemilu yang jurdil, bahkan sanggup menawarkan kepemimpinan alternatif sebagai perlawanan kepada elit politik yang kerap mempraktekkan status quo dalam kehidupan demokrasi. Jika sudah memahami karakteristik generasi milenial maka jauh lebih mudah masuk dan menaklukannya.

 

PKS Menggarap Generasi Milenial

Dengan jumlah generasi milenial yang begitu banyak dan potensi yang dimiliki sebagaimana sudah dijelaskan di atas, maka ini tentu harus menjadi sasaran partai politik. Partai harus mulai berbenah dengan menjadikan generasi milenial sebagai lahan garapan. Tidak terkecuali Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Sebab, jika partai bisa menggaet generasi Y ini, maka PKS bisa menjadi partai papan atas pada pemilu 2019. Generasi milenial adalah generasi yang berpikiran terbuka dan wawasannya global. Informasi yang sering masuk kepadanya itulah yang bakal mempengaruhi pola pikir dan pada akhirnya menjatuhkan pilihan politik.

Jika ingin menjadi partai modern dan berkelanjutan, PKS harus mampu menarik minat anak muda berlabuh. Ledakan generasi milenial ini harus segera direspon. Pengurus-pengurus PKS harus mampu menjadikan partainya sebagai tempat yang memberikan ruang bagi anak-anak muda mengabdi bagi bangsa dan Negara. Masa depan PKS ada di tangan para generasi milenial tersebut. Oleh karena itu, seluruh kader PKS wajib untuk menggaet generasi milenial demi terciptanya regenerasi yang berkelanjutan.

Dalam pemilu 2019, demografi pemilih usia muda harus dipetakan di tingkat daerah pemiliihan (dapil). Penting pula dicari irisan antara usia dengan kelas ekonomi. Semua yakin bahwa setiap partai akan mencari pemilih anak muda. PKS harus tampil di depan.  PKS harus melakukan kampanye yang berbasis data, tidak bisa menjaring semua pemilih, harus sangat segmented. PKS juga perlu menampilkan generasi milenial sebagai calon anggota legislatif pada pemilu 2019. Usunglah anak-anak muda yang ganteng, cantik, kreatif dan berprestasi.

Dengan begitu, generasi milenial akan tertarik hatinya dan menjatuhkan pilihannya pada caleg yang diusung PKS. Jika ingin menjadi partai modern dan menang pemilu, mengusung caleg dari generasi milenial adalah suatu keharusan. Branding partai anak muda yang dilakukan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) juga perlu ditiru PKS. Karena sejatinya orang-orang yang melahirkan PKS adalah anak-anak muda.

Peringatan sumpah pemuda tahun ini yang relatif dekat dengan agenda-agenda kepemiluan harus menjadi momentum PKS meneguhkan sebagai partainya anak-anak muda. PKS perlu menggunakan pendekatan yang lebih personal dan segmented untuk menggarap anak-anak muda. Kader-kader PKS harus menjadi tokoh-tokoh di tempat masing-masing, karena berbeda dengan partai-partai besar lainnya yang punya tokoh nasional. Generasi muda kurang suka dengan isu-isu politik yang hard. Mereka lebih suka yang sifatnya non-politis. Ini tentu menjadi pekerjaan rumah bagi PKS. Adanya PKSmuda yang sudah dibentuk anak-anak muda adalah pertanda baik bahwa partai ini sebenarnya diminati generasi milenial. Kini tinggal sejauh mana PKS meresponnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *