Moral Guru dan Akhlak Siswa

Oleh Khoirul Abror, Guru SMKN I Simpangagung, Lampung Tengah

 

MARAKNYA isu kerusakan moral di kalangan pelajar, seperti seks bebas, narkoba, tawuran, pornografi, membolos saat jam pelajaran, mencari bocoran soal ujian, pembegalan, dan pembunuhan sudah menjadi masalah sosial yang belum tuntas hingga saat ini. Kondisi ini jelas sangat memprihatinkan masyarakat, khususnya para orang tua dan para guru di sekolah.

Banyak kalangan menilai kondisi demikian diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia pendidikan. Pendidikanlah yang sebenarnya paling besar memberi kontribusi terhadap situasi seperti ini. Padahal, masalah moral yang terjadi pada siswa tidak hanya menjadi tanggung jawab guru, tetapi juga merupakan tanggung jawab semua pihak.

Mengingat, komunitas suatu sekolah sangat beragam yang terdiri dari bermacam suku, agama, dan ras sehingga berbagai konflik sangat mudah muncul meskipun dipicu oleh persoalan sepele. Begitu pula dengan pentingnya peran guru dengan anak-anak itu bersekolah.

Betapa kagetnya kita saat melihat berita-berita di media massa ada oknum guru yang melanggar nilai-nilai moral terhadap siswanya, melakukan kekerasan pada anak didik, ditambah sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian ketimbang penanaman nilai akhlak.

Guru yang seharusnya menjadi orang yang digugu dan ditiru terkadang belum memahami betapa mulia tugas yang diembannya, yaitu sebagai pendidik generasi.

Selama ini masih banyak ditemukan dari para guru yang hanya menjalankan tugas sebagai pengajar, bukan sebagai pendidik. Bagi mereka, yang terpenting target kurikulum sudah mereka sampaikan pada anak didik tanpa memberi ruh pada setiap apa yang mereka sampaikan.

Untuk itu, negeri ini merindukan hadirnya guru-guru seperti Bu Muslimah dalam film Laskar Pelangi, Ustaz Salman dalam Negeri Lima Menara, dan guru-guru lain yang ternyata ada dalam kehidupan nyata dan mampu menginspirasi anak-anak didik mereka untuk menjadi sukses.

Selain itu, pemerintah pun perlu belajar dari negara-negara lain yang begitu menghargai profesi guru sehingga diharapkan dengan penghargaan yang layak, guru-guru negara ini dapat termotivasi untuk lebih maksimal lagi dalam meningkatkan kualitas diri mereka sebagai pendidik.

Wajah anak-anak negeri ini pun dipenuhi dengan beban-beban psikis, baik beban dari rumah maupun beban dari sekolah yang menerapkan sistem ujian akhir nasional (UAN) yang sering membuat mereka stres.

Semua masalah yang terjadi pada anak-anak negeri ini bagaikan mata rantai yang saling berkaitan. Karena itu, sebagai orang tua, guru, dan juga pemerintah harus saling mendukung dalam hal pendidikan anak.

Sebagai orang tua sudah seharusnya memperbaiki pola asuh dan moral, mengingat anak adalah amanah Allah yang akan dipertanggungjawabkan. Orang tua juga harus memiliki moral yang baik agar bisa menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Begitupun peran guru yang menjadi pengganti orang tua di sekolah, guru pun memiliki peran penting dalam membentuk akhlak anak didiknya sehingga harus selalu menjaga moralnya dengan baik dan meningkatkan profesionalisme kerja.

Tak hanya itu, orang tua, guru, dan pemerintah juga harus memberikan perhatian yang besar dalam memperbaiki sistem pendidikan yang lebih ramah kepada anak dan lebih menitikberatkan kepada nilai-nilai akhlak dan moral.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *