Guru dan Dosen Itu Ibarat Koki Pendidikan

Khoirul Abror, Guru SMKN I Simpangagung, Lampung Tengah

KURIKULUM merupakan inti dari pendidikan di sekolah maupun di perguruan tinggi. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, guru bertugas dan bertanggung jawab melaksanakan pengajaran atau sekarang lebih dikenal dengan istilah pembelajaran dan guru menjadi eksekutif utama kurikulum.

Kegiatan pembelajaran di sekolah maupun di kampus diwujudkan dalam bentuk interaksi antara guru dan siswa. Siswa bertugas belajar, yakni berusaha memperoleh perubahan perilaku atau pencapaian kemampuan tertentu berdasarkan pengalaman belajarnya yang diperoleh dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Untuk mencapai tujuan pendidikan, guru maupun dosen berupaya menyampaikan isi pembelajaran kepada siswa melalui proses atau strategi tertentu, serta melaksanakan evaluasi untuk mengetahui proses dan hasil pembelajaran.

Perlu dicatat, meski memiliki kedudukan sentral dalam pendidikan, keberadaan kurikulum tetap hanya sebagai alat (instrumental) yang bersifat statis. Kurikulum akan bermakna ketika benar-benar dapat terimplementasikan dengan baik dan tepat dalam setiap praktik pembelajaran (kurikulum sebagai kegiatan), serta dapat berjalan efektif dan efisien (kurikulum sebagai hasil).

Jika diibaratkan membuat makanan, guru adalah koki, sedangkan kurikulum adalah kumpulan resep makanan yang dijadikan pegangan bagi sang koki. Di dalamnya memuat bahan dan cara untuk membuat makanan.

Meski tidak sepenuhnya persis dan identik, analogi itu barangkali bisa menggambarkan tentang sebuah proses pendidikan. Berkaitan dengan perubahan kurikulum 2006 ke kurikulum 2013, apakah sedang berhadapan dengan buku resepnya yang keliru sehingga sulit dipahami dan dijadikan pedoman bagi sang koki ataukah justru kita sedang menghadapi persoalan dengan kemampuan sang koki dalam mengolah makanan?

Sebagai tenaga pendidik, sejauh ini saya lebih melihatnya pada pilihan kedua dan inilah persoalan yang kerap terjadi dalam setiap pergantian kurikulum. Hingga di akhir ujung hayatnya kurikulum 2006, saya melihat masih ada sebagian teman-teman di pelosok negeri ini yang sama sekali belum tersentuh dengan makhluk yang bernama kurikulum 2006.

Bagi mereka, kurikulum 2006 tak ubahnya seperti makhluk gaib. Kenapa bisa demikian? Salah satunya adalah kurangnya mendapatkan akses untuk meng-upgrade pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2006.

Oleh karena itu, memasuki era moderen seperti ini maka harus bisa memastikan bahwa setiap guru dan dosen dapat termotivasi dan terlatih untuk mampu menjalankan kurikulum baru ini. Jika tidak dilakukan pembenahan dari sisi ini, ide-ide yang tertuang dalam kurikulum 2013 tetap saja hanya akan menjadi sekumpulan ide atau dokumen yang sama sekali tak berguna.

Mendidik tentu sangat berbeda dengan mengolah makanan. Mendidik memang jauh lebih rumit karena melibatkan faktor manusia dengan segala keunikan dan karakteristiknya yang sangat kompleks. Meskipun sulit, pendidikan harus tetap dilakukan dan kita semua tidak menginginkan makanan yang gosong atau tidak matang sehingga harus berujung di tong sampah.

Oleh karena itu, untuk menghindari kemubaziran, bagi guru tampaknya hanya tersedia dua pilihan: menjadi guru profesional atau tidak sama sekali. Apa pun wujud kurikulumnya, tetaplah berdedikasi pada profesi dengan mencurahkan segenap potensi terbaik yang dimiliki, demi pendidikan yang lebih baik demi putra-putri didik kita agar kelak mereka dapat memiliki kehidupan yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *