Pemuda dalam Pelukan Cahaya

Karya Muhammad Azzam

Saya Alex. Itu bukan nama asli. Nama sengaja saya samarkan bukan karena saya malu jika orang lain tahu saya yang membuat tulisan tak seberapa ini. Bukan pula karena nama pemberian orangtua saya tidak sekeren nama Alex. Hanya saja, saya tak ingin pembaca terfokus pada siapa sosok yang diceritakan. Silahkan ambil hikmah dari perjalanan hidup seorang muslim bernama Alex ini. Perjalanannya mencari ketenangan, hingga Ia terbenam dalam pelukan Tarbiyah.

Alex lahir dan dibesarkan dalam keluarga Nahdliyin (NU) tulen. Ayahnya seorang tokoh Nahdatul Ulama di kampung halamannya. Sang Ayah yang juga pengikut aliran Toreqoh Naksabandiyah itu dipercaya sebagai imam tetap salah satu masjid di Way Kanan. Latar belakang Ayahnya itulah yang membuat Alex memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang keyanikan yang dianutnya, Islam. Sang Ayah membekalinya dengan banyak ilmu dan nilai-nilai religiusitas. Meski begitu, pengetahuan tak selalu berbanding lurus dengan pemahaman. Karena tahu yang dimiliki Alex hanya sekedar tahu. Belum merasuk hingga ke kalbu. Maklum, laki-laki itu hanyalah seorang muda yang sedang mencari jati dirinya.

Ayah Alex begitu menginginkan anaknya menjadi seorang mualim besar. Meski waktu itu Alex tidak memiliki keinginan yang sama dengan harapan Sang Ayah, Ia tetap berusaha mewujudkan mimpi Ayah tercinta. Untuk itu, selesai mengenyam pendidikan dasar dan menengah, pada 2003 Alex pergi meninggalkan kampung halamannya menuju Kota Metro.

Setibanya di Kota Pendidikan, Alex nyantri di Pondok Pesantren Riyadatul Umum. Pesantren bercorak NU yang cukup tersohor. Ditempat yang diberkahi itu, Alex belajar banyak hal. Mulai dari Bahasa Arab, Kitab Kuning, akidah, akhlak, hingga belajar bercocok tanam. Lokasi pesantren memang cocok untuk bercocok tanam, disekelilingnya membentang sawah luas. Alex dan beberapa santri lain biasa membantu pengasuh pesantren, Abah Kiyai untuk menggarap sawahnya setiap akhir pekan.

Diluar jam belajar, Alex aktif dalam kegiatan ekstra Ma’had. Darah NU yang diwariskan Sang Ayahnyalah yang membuat Alex tertarik dan akhirnya bergabung dalam salah satu organisasi bentukan Gusdur, Barisan Ansor Serbaguna (Banser). Selain darah NU yang dimilikinya, postur tubuh tegap dan kuat Alex cukup menjadi modal untuk bergabung dalam barisan pemuda tersebut, sebagai garda terdepan pengamanan para kiai dan tamu-tamu besar. Setelah mengikuti pendidikan dan latihan dasar yang cukup menguras tenaga, akhirnya Alex berhasil memperoleh sertifikat sebagai anggota Banser berikut dengan seragam loreng mirip anggota Tentara Nasioanal Indonesia (TNI). Tak ayal, itu membuat Alex berbangga.

Sebagai anggota Banser, Alex tak hanya dibekali pemahaman tetapi juga ilmu bela diri berbasis tenaga dalam. Dengan amalan-amalan khusus yang harus Ia lakoni, Alex memperoleh ilmu kekebalan tubuh. Ilmu membuatnya tidak mempan ditikam senjata tajam bahkan ditembak peluru. Kesaktian yang dimilki Alex dapat dibuktikan saat dua orang membacok punggungnya berkali-kali dengan golok besar dan tajam. Tidak setetespun darah mengalir. Kini Alex menjadi manusia kebal. Ia semakin berbangga dengan keahlian yang dimiliki.

Seteleh satu setengah tahun menimba ilmu pengetahuan dan kekebalan di pesantren, Alex mulai berfikir, Ilmu yang Ia kuasi saat itu tidak akan cukup membuatnya sukses dan dibanggakan orangtuanya. Kemudian Alex melanjutkan kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Metro. Jarak kampus dan pesantren yang cukup jauh, membuat Alex enggan kembali lagi ke pesantren. Namun pemuda tampan itu tidak memiliki kerabat dekat disana. Solusi terbaik yang Ia temukan waktu itu adalah dengan menjadi marbot di masjib yang tertetak persis di belakang kampusnya. Setidaknya ada dua keuntungan yang Ia peroleh dengan menjadi tukang bersih-bersih masjid. Pertama Ia memperoleh pahala, Insyaallah. Kedua Ia memiliki tempat tinggal gratis yang dekat dekat kampus. Menetap di rumah Allah membuat Alex semakin religius. Ia menjadi muadzin tetap pada setiap panggilan sholat.

Jika dilingkungan pesantren dulu Alex masih sering melakukan aktifitas ahli hisap (merokok), kali ini Ia tidak bisa. Bahkan untuk sekedar melepas kerinduan melinting tembakau pun sulit dilakoni. Maklum saja, aktifitas meroko memang tak layak dilakukan di masjid. Ditambah rekan-rekan satu tempat tinggalnya juga tidak merokok. Meski begitu, Alex masih bisa curi-curi kesempatan, dengan cara mengunci kamar atau saat di kamar mandi.

Masjid yang Ia diami itu ternyata menjadi markas para mahasiswa yang tergabung dalam Lembaga Dakwah Kampus STAIN dan Universitas Muhammadiyah Metro. Awalnya Alex tidak begitu penasaran dengan apa yang mereka lalukan. “Mungkin mereka hanya berkumpul dan berdiskusi di masjid, tidak ada yang istimewa,” pikir gue.

Setiap selepas dzuhur, Alex mulai mengamati lingkaran-lingkaran kecil yang dibentuk para anggota kelompok diskusi itu. Dari hasil pengamatannya, Alex menyimpulkan diskusi itu dipimpin oleh salah seorang yang lebih senior dari yang lainnya. Para junior terlihat serius memperhatikan Sang Senior menjelaskan teori-teorinya di papan tulis putih kecil. Entah apa yang senior tuliskan di atas papan. Rasa penasaran Alex semakin besar mendapati keramahan para anggota lingkaran itu. Sesekali mereka mengajak Alex berdiskusi atau sekedar ngobrol santai bersama.

Intensitas pertemuan Alex yang semakin sering dengan anggota lingkaran itu membawanya masuk dalam Pelatihan Kader Aktifis Dakwah Kampus. Alex pun tak tahu apa yang membuatnya tertarik untuk bergabung. Hanya keramahan dan kebaikan hati anggota lingkaran itu lah yang membuatnya mau bergabung dalam pelatihan yang Alex ketahui belakangan sebagai pintu gerbang keanggotaan aktifis dakwah kampus (ADK). Mungkin itulah yang disebut “apa yang disampaikan dengan hati, akan sampai ke hati pula”.

Pasca pelatihan, Alex resmi terdaftar sebagai anggota ADK. Sesuai namanya, anggota ADK diberikan amanah untuk menyampaikan kebaikan dimanapun mereka berada. Memang menyampaikan kebaikan itu bukan hanya tugas ADK, setiap manusia memiliki amanah yang sama untuk urusan satu ini. Karena pada prinsipnya setiap insane adalah pendakwah, setidaknya untuk diri dan keluarganya. “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”. ( At : Tahrim : 6)

Hilangnya Ilmu Kebal
Seiring keaktifan Alex dalam kelompok ini, Ia juga diwajibkan untuk mengikuti kajian rutin setiap pekan sekali. Kajian yang disampaikan dalam lingkarang kecil seperti yang selama ini Ia amati itu membahas banyak hal mengenai dasar-dasar keislaman. Hingga suatu saat, Ia tercengang oleh penjelasan pembinanya yang mengatakan ilmu kebal adalah salah satu bentuk persekongkolan dengan jin. Dan persekongkolan itu diharamkan karena salah satu bentuk penyimpangan akidah. Ya, saat itu materinya Sahadattain… Materi pertama kali.

Setelah mendapat materi itu saya kemudian menceritakan ilmu kebal yang saya punya kepada sang murobi. Atas saran pembina, Alex di ruqiyah. Proses penyembuhan dari gangguan jin itu berhasil Ia laksanakan setelah susah payah meyakinkan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, menghilangkan ilmu kebal yang dimiliki, bukan perkara mudah bagi Alex. Kemampuan itu sudah cukup lama Ia miliki, dan bisa dibilang kemampuan tersebut menjadi salah satu kebanggan dirinya. Namun, pehamanan perlaham membuka kesadarannya jika manusia paling mulia Rasullulloh SAW saja bisa mengalami patah gigi pada perang Badar, maka tak mungkin dirinya yang bukan apa-apa diberikan kemampuan itu dari Allah, kecuali atas kerjasama dengan jin melalui amalan-amalan khusus yang Ia kerjakan.

Semakin lama, Alex semakin merasakan kenyamanan dan ketenangan dalam kegiatan yang disebut tarbiyah itu. Perlahan kebiasaan-kebiasaan buruk seperti merokok mulai Ia hilangkan sama sekali. Kenyamanan itu membuat Alex totalitas dalam melaksanakan setiap amanah yang diembannya. Bahkan Ia pernah diamanahkan untuk menjadi pimpinan organisasi dakwah di kampusnya. Satu hal lain yang menarik dalam tarbiyah, terdapat proses transfer ilmu antara orang yang lebih dulu tarbiyah kepada mereka yang lebih baru . Transfer ilmu itulah yang diyakini Alex sebagai sarana belajar paling efektif. Karena esensi belajar itu sendiri adalah mengajarkan. Alexpun belajar menjadi murobi. Namanya belajar Ia membina satu kelompok pelajar di SMKN 3 Metro. Seiring berjalannya waktu, ternyata salah satu binaan saya tumbuh besar dan menjadi orang luar biasa. Ya, dia menjadi ketua KAMMI.

Tahun 2009 Alex lulus kuliah dan diterima bekerja disalah satu perusahaan swasta. Nah pascakampus ini komitmen konsistensi tarbiyah Alex diuji. Ia tinggal di Menggala, Tulangbawang. Konsekuensi pekerjaan yang Ia peroleh itu, Alex harus menempuh jarak 50 Kilo Meter setiap pekan menuju Unit 2 maupun Banjar Marjo Tulang Bawang hanya untuk sekedar melingkar dan melepas rindu denga teman-teman mengajinya. Jika liqonya mulai ba’da magrib saya biasanya jam 16.30 WIB dan pulangnya pukul 22.00. Saya melintasi jalan lintas timur yang gelap dan dikenal rawan begal dan rawan kecelakaan.

Meski kadang terlontar keluhan bahkan sempat terhenti beberapa pekan tidak hadir liwo karena didera lelah, Alex selalu punya cara untuk membangkitkan semangatnya. Kecelakaan yang sempat Alex alami saat perjalanan melingkar tidak membuatnya jengah untuk kembali menemukan semangat. Satu hal yang Alex pahami. Karakteristik keimanan kadang meningkat, kadang melemah.Meski tidak sesoleh para nabi, dalam lingkaran Alex selalu diingatkan tujuan hidup seorang manusia tak lain hanya mengumpulkan bekal menuju hari yang kekal setelah kematian. Satu sama lain saling mengingatkan ketika lengah. Saling menguatkan ketika lemah.

Di Tulangbawang kecintaan terhadap dakwah juga ditunjukkannya dengan membina kelompok pelajar dan orang dewasa. Kelompok pelajar yang dia bina adalah anak-anak SMAN 2 Menggala, sebuah sekolah unggulan dan kini alumni dan beberapa binaan saya juga menjadi aktivis dakwah kampus terkenal di Jawa, di Unila dan sejumlah perguruan tinggi lainnya. Sedangkan kelompok dewasa adalah karyawan sebuah rumah makan yang cukup terkenal di Menggala. Seluruh pegawai yang ada ditempat itu diwajibkan liqo oleh pemiliknya. Alhamdulillah.

Pada tahun 2011 Alexpun menikah dan melanjutkan kuliah program magister. Kemudian pertengahan tahun 2012 ia memutuskan untuk pindah kerja dan menetap di Bandar Lampung. Kini Alex terus berupaya konsisten di jalan dakwah. Meski tak menjadi mualim besar seperti yang diharapkan ayahnya, Alex berharap apa yang dilakukannya saat ini juga menjadi catatan amal baik untuk keduaorangtuanya yang menjadikannya seorang muslim. Nilai dan pemahaman yang Alex miliki juga Ia sampaikan kepada keluarga kecilnya. Ia berharap anak-anaknya kelak menjadi tentara-tentara dakwah yang berdiri di barisan paling depan. Tentara yang tak hanya mengumpulkan bekal kebaikan, tapi juga membagikan kebaikan itu.

Meskipun sekarang ia bekerja dilingkungan yang kurang kondusif karena sang pemilik perusahaan beda ideologi tidak membuatnya goyah. Dia tetap bertahan ditempat itu karena peranannya juga cukup signifikan dalam membantu eksistensi jamaah. Kini dalam program rekrutmen tahun 2014, ia mendapat amanah di kelompok liqonya menjadi penanggung jawab (pj) rekrutmen dan bertekad bersama teman pengajiannya untuk mensukseskan program ini dengan baik, agar semakin banyak masyarakat Bandar Lampung menjadi pendukung gerakan jamaah ini. Semoga kisah ini menjadi isnpirasi untuk selalu istiqomah dalam hangatnya pelukan cahaya tarbiyah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *