Opini : Keadilan Gender Antara Islam dan Ideologi Feminisme

Raden ayu kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi, berawal dar surat kabar yang ditulis kartinitentang kondisi social saat itu terutama dengan kondisi perempuan yang sebagian besarberisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di jawa yang menghambat kemajuan perempuan. Ia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Adapun karya tuis beliau berisi tentang ide dan cita-cita meliputi:

Zelf ontwikkeling dan zelf onderricht, zelf vertrouwen dan zelfwerkzaamheid dan solidariteit yaitu semua atas dasar ketuhanan, kebijaksanaan dan keindahan serta peri kemanusiaan dan cinta tanah air/ nasionalisme. kartini mengungkap keinginannya untuk menjadi seperti kaum eropa, ia juga menggambarkan penderitaan perempuan jawa yang terkungkung adat yaitu tidak bias duduk dibangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki yang tak dikenal dan harus bersedia dimadu.

Banyak isi surat ini mengungkapkan tentang kendala yang harus dihadapi ketika mempunyai cita-cita perempuan dijawa. Maka kemudian berangkat dari tuaian pemikiran R.A. kartini tersebut maka dikeliarkanlah oleh presiden soekarno sebuat keputusan prwsiden nomor. 108 tahun 1964 tertanggal pada 2 mei 1964 yang kemudian disana dituliskan menetapkan kartini sebagai pahlawan nasional sekaligus menetapkan hari lahir kartini tanggat 21 april serta untuk memperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian kita kenal lazimny dengan sebutan hari kartini.

Namun di saat perkembangan zaman yang makin maju serta makin rumit dan berliku pula masalah yang kemudian muncul mengeluarkan sebuah slogan yang mungkin sering kita kenal yaitu adalah keinginan kesetaraan gender, penyamaan dan keadilan ( antara laki-laki dan perempuan) atau sering kita pahami bersama dengan istilah feminisme maka  kemudian dalam hal ini kaum perempuan berkeiginan memiliki kesetaraan sama dengan laki-laki, baik itu dalam jabatan politik dan jabatan lain sebagainya di berbagai lini aspek dalam lingkungan hidup bermasyarakat tanpa melihat lagi batasan kodrat dan fitrahnya dimana mereka menginjakkan kakinya sebagai seorang perempuan.

bagi kian masyarakat barat mungkin gerakan feminisme tadi sangat diperlukan dalam rangka memperjuangkan hak-hak perempuan disana yang tidak terakomodasi oleh agama, limgkungan budaya, dan unsur kemajuan peradaban mereka. Akan tetapi bagi masyarakat (mukmin) itu sendiri yang kemudian melihat dari segi kacamata agama islam bahwa feminisme tersebut tidak mempunyai sebuah arti sebab dari awal islam itu sendiri telah muncul sebagai sebuah system rahmat bagi seluruh alam serta mengatur berbagai lini aspek kehidupan baik itu social, budaya, pemerintahan dan juga lain sebagainya lebih luas dan bukan  hanya sekedar sebuah ritual dan peribadatan semata, mengatur bukan hanya untuk laki-laki saja, bukan hanya untuk perempuan saja akan tetapi mengatur lebih luas dari itu yaitu hubungan interaksi antara manusia dengan Rabb-nya, interaksi manusia dengan manusia dan bagaimana hubungan manusia dengan alam sekitar-nya.

Pembuktian dalam praktikalnya itu kadang-kadang berbeda maka dalam kepercayaan di yahudi itu bahwa perempuan itu nilainya  0 (nol) dalam ibadah jika tidak ada laki-laki,di zaman jahiliah ketika perempuan itu lahir langsung di eksekusi lalu kubur hidup-hidup. Kemudian ada dalam sebuah kitab disebutkan perempuan itu bahkan disebutkan Hawa as adalah jelmaan iblis. Kemudian muncul pertanyaan apakah syari’at poligami merendahkan perempuan?

Dilihat dulu latar belakang sejarahnya, dulu perempuan itu mudah sekali diabaikan,dinodai, dipersunting seenaknya bahkan dalam sejarah zaman kekaisaran china berapa banyak perempuan dijadikan selir,bahkan setiap 1 kaisar itu mempunyai 100 bahkan sampai 1000 perempuan. Maka kemudian dari jangan ajari orang islam tentang keadilan dalam memperlakukan gender karena orang islam yang pertama datang dengan alqur’an dan sunnah mengangkat derajat perempuan, mengangkat ketinggian dan kemudian menepikan pelecehan kepada perempuan.

Dalam islam perempuan memiliki derajat yang sangat mulia dimana nabi Muhammad SAW menjunjung tinggi kaum hawa dalam kehidupanya. Malah justru ideology feminisme  masih jauh jika dibandingkan dengan syari’at kemuliaan seorang wanita dalam islam. Bahkan kemuliaan tersebut telah diberikan kepada perempuan sebelum paham feminisme tersebut dan mengakar di pikiran dan benak umat manusia.

Penulis : Ilham Tri Yubsir, Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *