Opini : Antara Pemilu atau Gimmick Nasional

Penulis : Muhammad Fauzul Adzim (Presiden Mahasiswa Universitas Lampung 2018/Kordinator Pusat BEM SI)

Dalam konsepsi negara demokrasi pemilu ialah pilar perubahan yang perlu seluruh elemen menyukseskannya, baik elit politik, pejabat negara, masyarakat dan juga mahasiswa. Catatan terpenting berhasilnya demokrasi ialah terciptanya pasar gagasan yang dipasarkan kepada masyarakat Indonesia untuk menghasilkan sebuah kebijakan yang terbaik.

Pasar gagasan yang dihasilkan melalui proses pemilu ialah pencapaian yang terpenting dalam sebuah kontestasi demokrasi di negara kita Indonesia. Terciptanya pasar gagasan inilah yang membuat kondisi demokrasi dapat bermanfaat untuk kondisi bangsa Indonesia.

Dengan kondisi multi partai serta begitu banyaknya peserta pemilu seharusnya juga akan sebanding dengan banyaknya rancangan karya serta gagasan besar untuk Indonesia masa depan.

Tapi, hemat penulis. Memandang kondisi politik nasional yang penuh dengan segala riak-riaknya. Dewasa ini kondisi politik tidak jauh hanya seperti pameran elektabilitas, dengan mengemas segala euforia mileneal, simbol-simbol, bahkan istilah-istilah yang terlontar dari para paslon inilah yang menjadi pembahasan di beberapa media-media nasional. Seperti: istilah Sontoloyo, Tampang Boyolali, Kampret, Kecebong dll.

Diskursus ini hanyalah “gimmick”. Yang tidak berpihak pada rakyat Indonesia. Kita telah terjebak pada konflik non substansial, yang hanya mengarah pada perpecahan. Harusnya pemilu sebagai pilar demokrasi mampu menciptakan gagasan dan diskursus persatuan dan ide masa depan Indonesia. Bukan soal saling berbalas sindiran, saling kriminalisasi, atau pun saling mengistilahkan simpatisan dengan istilah-istilah binatang.

Melihat kondisi politik nasional yang dipertunjukan ialah pertunjukan sinetron yang melankolis, penuh dengan drama-drama non substansial dan saling menggunjing satu dengan yg lain padahal di bawah sana di pelosok desa, di pinggiran kota dan di kebun-kebun ada berjuta masyarakat dengan tatapan harapan untuk sebuah kehidupan. Sudahi gimmick nasional ini, kembalilah pada pemilu sehat dan demokrasi yang bernas gagasan. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *