Perlukah Pendidikan Seks di Sekolah?

Khoirul Abror

Hingga saat ini persoalan tentang perlu tidaknya pendidikan seks bagi para remaja di sekolah belum juga tuntas. Sebagian kalangan yang tergolong modernis-progresif setuju bahwa pendidikan seks ini perlu diberikan, sementara bari kalangan konservatif tradisionalis tidak setuju, oleh karenanya sampai saat ini pendidikan seks bagi remaja belum diakomodir pemerintah untuk dimasukkan ke dalam kurikulum.

Masalah ini menarik untuk dikaji, yang sebenarnya apa yang melatarbelakangi pemikiran dari kelompok-kelompok ini.       Ada tiga pertimbangan pemikiran kalangan modernis progresif untuk mengatakan setuju, yaitu :

       Pertama : Bahwa adanya penyimpangan seksual atau hubungan seks di luar nikah yang dilakukan sebagian remaja,disebabkan karena mereka tidak diberikn pendidikan seks sebelum menikah, baik dari segi kesehatan, sosial, moral dan sebagainya. Mereka tidak mengetahui cara-cara mengendalikan diri agar tidak terjerumus ke dalam prilaku seksual tersebut dan sebagainya.

       Kedua : Bahwa adanya rumah tangga yang kurang harmonis tidak mampu bertahan lama, penuh kegoncangan dan pertentangan antara lain disebabkan karena sebelum menikah tidak diberikan pendidikan seks serta hal-hal lain yang ada hubungannya dengan kehidupan rumah tangga.

Ketiga : Bahwa setiap manusia memiliki potensi dan kecendrungan seks yang amat kuat, yang apabila tidak dididik dengan sebaik-baiknya, maka boleh jadi potensi biologis tersebut disalahgunakan pada hal yang dapat merugikan dirinya sendiri, seperti melakukan hubungan di luar nikah, pemerkosaan, kumpul kebo dan sebagainya. Pendidikn seks ini perlu diberikan kepada setiap orang sebagaimana halnya pendidikan intelektual, kecakapan, kesenian dan sebagainya. Jika manusia perlu diberikan pendidikan intelektual dengan dasar karena manusia memiliki akal pikiran, maka pendidikn seks perlu diberikan karen manusia memiliki potensi biologis.

Selanjutnya bagi kelompok konservatif tradisional yang tidak setuju pendidikan seks juga memiliki alasan-alasan yang cukup dimengerti yaitu :

       Pertama : bahwa masalah seks termasuk kebutuhan dasar manusia, sebagaimana kebutuhan terhadap makan, minum, pakaian dan tempat. Manusia tanpa disuruh dan diajaripun akan mencari sendiri sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.

       Kedua : bahwa jika pendidikan seks diberikan di sekolah justru akan mendorong mereka untuk melakukannya, mereka ingin mempraktekkannya segera, sebagaimana pelajaran lainnya yang menghendaki praktek. Hal in jelas berbahaya karena dorongan seksual yang terdapat dalam dirinya sangat kuat. Keadaan ini juga diperparah dengan produc teknologi VCD film, buku porno dsb. Adanya penyimpangan seksual saat ini adalah akibat produk-produk tersebut.

       Ketiga : bahwa jika pendidikan seks diberikan kepada para remaja  dibayangi kehawatiran akan penggunaannya yang menyimpang sebagaimana diketahui para remaja belum mempunyai ketahanan mental yang cukup untuk mengendalikan hawa nafsunya yang sedang membakar dan menggelora.

       Keempat : Para remaja secara psikologis ditandai oleh keadaan serba ingin tahu, ingin mengalami, ingin merasakan dan seterusnya. Mereka kurang berfikir panjang sebagai akibat posisi dirinya yang masih serba bebas tanpa ikatan apapun belum ada beban dan sebagainya.

Solusi

       Pertama : Pendidikan seks harus dilakukan secara tidak langsung, yakni tidak dapat dilakukan dengan mengajarkan teori-teori apalagi praktek mengenai seks. Hal yang demikian didasarkan karena kehawatiran jika teori terseut dipraktekkan tanpa melalui saluran pernikahan, mengingat manusia memiliki dorongan nafsu yang sulit dikendalikan. Hal ini berbeda dengan pendidikan seperti pencak silat dsb.  Untuk itu pengajaran seks harus dilakukan secara tidak langsung, misalnya dengan menjelaskan larangan-larangan yang ada dalam agama. Misalnya agama melarang berbuat zina yaitu melakukan seks di luar nikah. Larangan ini harus dijelaskan dengan argumentasi yang bersifat rasional dan empiris, misalnya melanggar hak asasi orang lain, akan melahirkan anak-anak yang tidak jelas status hukumnya,tidak memiliki siapa yang harus bertanggung jawab dsb.

       Kedua : Pendidikan seks harus dilakukan dengan penuh etis dan sopan santun.bahkan bisa juga dengan menggunakan perumpamaan, misalnya wanita diibaratkan seperti sawah dan ladang dan pria sebagai petani.Di ladang tersebut akan tumbuh berbagai macam tanaman sesuai dengan apa yang ditanam, maka jangan coba-coba laki-laki menanamkan benihnya kepada wanita karena akan mendatangkan keturunan yang harus dipertanggungjawabkan.

       Ketiga : Pendidikan seks yang bersifat tidak langsung dan penuh sopan santun tersebut sebaiknya tidak dilakukan di sekolah, melainkan cukup dilakukan oleh orng tua, karena orang tuanyalah yang secara moral bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya. Dalam kaitan in Rosul mengajarkan agar orang tua sering memanjatkan do’a dan perbuatan baik pada saat bayi dalam kandungan, mengazani pada telinga kanan dan iqamah pada sebelah kiri pada saat bayi lahir, memberi nama yang baik, memberi madu, mengqiqahi, menghitankan, mengajarkan shalat, membaca Alquran, bertingkahlaku sopan, hormat pada orang tua, kakak, saudara, kepada kawan, tetangga dan orang yang tidak mampu. Hal ini akan memberikan modal yang kuat untuk membentengi anak agar tidak terjerumus ke dalam perbuatan yang menyimpang.

Penulis : Khoirul Abror  * Guru SMK N 1 Seputih Agung, Lampung Tengah

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *