Pergeseran Makna Tradisi Punjungan Masyarakat Jawa di Lampung

Oleh

Ahmad Burhanuddin,M.H.I

Dosen Fakultas Syariah UIN Raden INtan Lampung

Adat gotong-royong, punjung-memunjung, tolong menolong dan menghormati orang tua serta orang yang dituakan disuatu desa merupakan budaya yang dijunjung tinggi oleh masyrakat jawa, meskipun sudah tidak tinggal lagi di pulau jawa.

Pada masa lalu punjungan/tonjokan/ngenei rasan merupakan sarana yang dimaksudkan untuk menghormati orang tua,  sesepuh desa, tokoh masyarakat dan saudara atau kerabat sebagai rasa penghormatan, mohon ijin dan mohon doa restu bahwa yang bersangkutan akan mengadakan hajatan atau biasanya juga dilakukan dalam rangka menjelang hari raya. Hal ini dilakukan agar seseorang yang akan mempunyai hajat bisa sukses dan berkah serta mendapat dukungan penuh dari orang tua,  sesepuh desa, tokoh masyarakat dan saudara karena memang benar-benar niat ikhlas karena untuk menghormati mereka tersebut.

Seiring dengan perkembangan zaman  maksud dan tujuan dari punjungan sudah banyak mengalami pergeseran makna hal ini disebabkan atara lain: pada suatu masyarakat semakin padat dan multisuku, gengsi, mudahnya akses informasi dan semuanya bisa serba instan serta memang pada sebagian masyarakat jawa filosofi punjungan tersebut sudah memudar.

Pada saat ini tradisi punjungan bukan digunakan sebagai sarana menghormati sesepuh desa atau orang tua melainkan sebagai pengganti undangan yang diberikan kepada siapa saja yang dikenal, baru dikenal bahkan yang lebih parah lagi orang tidak dikenal pun diberi punjungan dengan maksud dan tujuan agar yang punya hajat mendapatkan sumbangan yang banyak dari hajatannya tersebut. Hal ini menunjukan kalau awalnya berorientasi pada ungkapan rasa syukur atas rahmat Allah SWT akan tetapi saat ini cebderung kepada bisnis, bermewah-mewahan dan dipaksakan.

Disamping itu, respon dari kebanyakan masyarakat akan mengeluh saat menerima punjungan, ini dikarenakan dengan adanya punjungan mereka harus menyumbang kepada yang punya hajat. Sebagai contoh orang-orang yang hanya diberi surat undangan saja biasanya akan menyumbang sejumlah dua puluh lima ribu rupiah, penerima punjungan harus menyediakan sejumlah uang minimal sebesar empat puluh rupiah. Ditambah lagi seakan-akan ada suatu kewajiban bagi orang yang dipunjung untuk menghadiri acara hajatan, karena jika tidak hadir akan timbul efek psikologis seperti rasa malu dan menjadi perbicangan warga masyarakat. Lain halnya dengan orang yang diundang tanpa punjungan, kehadirannya tidak begitu medapat tekanan dari orang yang punya hajatan. Sehingga dapat dikatakan bahwa tradisi ini sudah mengarah menjadi beban bagi masyarakat miskin. Bagi orang yang mampu hal semacam itu mungkin tidaklah masalah, namun bagi orang yang bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja merasa kesulitan, hal ini akan menjadi masalah dalam perekonomian bagi mereka.

Makna tradisi punjungan yang sudah sangat jauh menyimpang ini tanpa kesadaran dari masyarakat akan arti tradisi punjungan tersebut rasanya sangat sulit untuk dikembalikan sesuai dengan makna asalnya. Oleh karena itu akan lebih baik jika tradisi punjungan dalam walimah ditiadakan/dihilangkan diganti dengan undangan saja. Hal ini semata-mata bukan untuk menghilangkan budaya suatu masyarakat akan tetapi untuk menghilangkan beban dan permasalahan dari suatu masyarakat.  Kemudian kepada pemuka agama dan adat agar dapat memberikan penjelasan tentang tradisi punjungan kepada masyarakat sehingga tradisi punjungan bisa kembali seperti makna semula dan tidak menimbulkan perbedaan pendapat yang dapat merusak keharmonisan dalam lingkungan masyarakat. (*)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *