Model Penelitian Tasawuf

Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek rohani manusia yang selanjutnya dapat menimbulkan akhlak mulia. Pembersihan aspek rohani atau batin ini selanjutnya dikenal sebagai dimensi esoteric dari diri manusia. Hal ini berbeda dengan aspek fiqh, khususnya pada bab thaharah yang memusatkan perhatian pada pembersihan aspek jasmaniah atau lahiriah yang selanjutnya disebut sebagai dimensi eksoterik.

Melalui studi tasawuf ini seseorang dapat mengetahui tentang cara-cara melakukan pembersihan diri serta dapat mengamalkannya secara benar. Dari pengetahuan ini diharapkan ia akan tampil sebagai orang yang pandai mengendalikan dirinya pada saat ia berinteraksi dengan oang lain, atau pada saat ia berinteraksi dengan orang lain, atau pada saat melakukan berbagai aktivitas dunia yang menuntut kejujuran, keikhlasan, tanggung jawab, kepercayaan dan sebagainya. Dari suasana yang demikian itu, tasawuf diharapkan dapat mengatasi berbagai penyimpangan moral yang mengambil bentuk seperti manipulasi, korupsi, kolusi, penyalahgunaan kekuasaan dan kesempatan, penindasan, dan lain sebagainya.

Di tengah-tengah situasi masyarakat yang cenderung mengarah kepada dekadensi moral seperti yang gejala-gejalanya mulai tampak saat ini, dan akibat negatifnya mulai terasa dalam kehidupan, masalah tasawuf mulai mendapatkan perhatian dan dituntut untuk terlibat secara aktif mengatasi masalah-masalah tersebut. Terjadinya kebakaran hutan dengan segala akibatnya yang merugikan praktik pengguguran kandungan, (aborsi), pemerkosaan, pembunuhan, penipuan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas yang mengarah pada perilaku penyimpangan seksual, penimbunan harta kekayaan dengan dampaknya yang menjurus pada kesenjangan sosial, disia-siakannya masalah keadilan, dan lain sebagainya adalah bermula dari kekotoran jiwa manusia, yaitu jiwa yang jauh dari bimbingan Tuhan, yang disebabkan ia tidak pernah mencoba mendekati-Nya. Untuk mengatasi masalah ini tasawuflah yang paling memiliki potensi dan otoritas, karena di dalam tasawuf dibina secara intensif tentang cara-cara agar seseorang selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya. Dengan cara demikian, ia akan malu berbuat menyimpang, karena merasa diperhatikan oleh Tuhan.

Kembalinya masyarakat saat ini kepada tasawuf adalah cukup beralasan, karena secara historis, kehadiran tasawuf bermula sebagai upaya untuk mengatasi krisis akhlak yang terjadi di masyarakat Islam di masa lalu, yaitu saat umat Islam di abad klasik (650-1250M) bergwlimang harta dan kemewahan sudah mulai terjerumus ke dalam kedihidupan foya-foya, berbuat dosa, dan akhirnya ia lupa pada tugasnya sebagai khilafah Tuhan di muka bumi. Mereka sakit mentalnya sehingga tidak sanggup lagi memikul beban membangun masyarakat. Dalam keadaan yang sedang sakit inilah, maka dating serbuan bangsa Mongol tahun 1258 M dan berhasil mengalahkan umat Islam dengan kehancuran kota Baghdad secara menyedihkan.

Menyadari bahaya tersebut selanjutnya umat Islam harus introspeksi diri dengan membangun kembali etos kerja yang dipandu oleh akhlak yang mulia yang dibangun melalui tasawuf. Namun keadaan ini terjadi secara tidak seimbang. Kaum Muslim tampak lebih menangkap aspek ritualitas lahiriah dari tasawuf tersebut, asyik dalam zikir dan wirid, tanpa memberi pengaruh ke dalam gerakan sosial kemasyarakatan. Mereka malah menjauhi masyarakat, tidak peduli terhadap lingkungan dan akhirnya keadaan umat Islam semakin mundur. Dalam keadaan demikian wajar jika kemudian tasawuf dituduh sebagai biang keladi terjadinya keadaan dimana umat Islam semakin terpuruk ke dalam kemunduran. Namun, belakangan muncul upaya reinterpretasi kembali terhadap istilah-istilah tasawuf untuk dipahami, dihayati dan diramalkan dimensi spiritualitas dan dinamikanya sehingga ia menjadi motor penggerak terjadinya perubahan sosial yang mengarah pada terwujudnya keagungan Tuhan. Bertahannusnya Nabi Muhammad di Gua Hira misalnya, diartikan sebagai upaya merenung, menyusun konsep, taktik, dan strategi, dan mengumpulkan segala daya dan kemampuan untuk didayagunakan secara optimal bagi perubahan masyarakat.

PENGERTIAN TASAWUF

Dari segi kebahasaan (linguistic) terdapat sejumlah kata atau istilah yang dihubungkan orang dengan tasawuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang berhubungan dengan tasawuf, yaitu al-suffah (ahl al-suffah) yaitu orang yang ikut pindah dengan nabi dari Makkah ke Madinah, saf, yaitu barisan yang dijumpai dalam pelaksanaan shalat berjama’ah, sufi, yaitu bersih dan suci, sophos (bahasa Yunani: hikmah), dan suf (kain wol kasar).

MODEL-MODEL PENELITIAN TASAWUF

Berbagai bentuk dan model penelitian tasawuf secara ringkas apat dikemukakan sebagai berikut.

  1. Model Sayyed Husein Nasr

Sayyed Husein Nasr selama ini dikenal sebagai ilmuwan Muslim kenamaan di abad modern yang amat produktif dalam melahirkan berbagai karya ilmiah. Hasil penelitiannya di bidang tasawuf dengan menggunakan pendekatan tematik, yaitu pendekatan yang menciba menyajikan ajaran tasawuf sesuai dengan tema-tema tertentu. Diantaranya uraian tentang fungsi tasawuf, yaitu tasawuf dan pengutuhan manusia. Di dalamnya dinyatakan bahwa tasawuf merupakan sarana untuk menjalin hubumgan yang intens dengan Tuhan dalam upaya mencapai keutuhan manusia. Selanjutnya, dikemukakan pula tentang tingkatan-tingkatan kerohanian dalam tasawuf, manusia di alam kelanggengan di tengah perubahan yang tampak. Setelah itu dikemukakan pula perkembangan tasawuf yang terjadi pada abad ketujuh dan mazhab Ibn Arabi, serta Islam dan pertemuan agama-agama. Selanjutnya, dikemukakan tentang problema lingkungan dalam cahaya tasawuf, penaklukan alam dan ajaran Islam tentang pengetahuan timur.

Model penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendeakatan tematik yang berdasarkan pada studi kritis terhadap ajaran tasawuf yang pernah berkembang dalam sejarah.

  1. Model Mustafa Zabri

Penelitian yang dilakukan Mustafa Zabri bersifat eksploratif, yakni menggali ajaran tasawuf dari berbagai literature ilmu tasawuf. Yang menekankan pada ajaran yang terdapat dalam tasawuf berdasarkan literature yang ditulis oleh para ulama terdahulu serta dengan mencari sandaran Al-Qur’an dan Al-Hadits.

  1. Model Harun Nasution

Penelitian yang dilakukan Harun Nasution pada bidang tasawuf  ini mengambil pendekatan tematik, yakni penyajian ajaran tasawuf disajikn dalam tema jalan untuk dekat pada Tuhan, zuhud, dan station-station lain.

  1. Model A.J.Arberry

Penelitian Arberry menggunakn pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan tematik dan tokoh. Dari isi penelitiannya, Arberry menggunakan analisis kesejarahan, yakni berbagai team tersebut dipahami berdasarkan konteks sejarahnya, dan tidak dilakukan proses aktulisasi nilai atau mentransformasikan ajaran-ajaran tersebut ke dalam makna kehidupan modern yang lebih luas.

KESIMPULAN

Kesimpulan dalam artikel ini adalah model penelitian tasawuf memiliki pendekatan berbeda-beda setiap para ahli satu dengan lainnya.

 

Oleh : Windi Setyaningrum, Jurusan Siyasah UIN Raden Intan Lampung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *