Makalah Muzakki dan Mustahik Zakat

Latar Belakang

Muzakki dan mustahiq merupakan bagian dari unsur-unsur pokok pelaksanaan zakat. Keduanya memiliki kedudukan yang sangat penting mengingat tanpa adanya salah satu dari keduanya, maka zakat tidak dapat terlaksana. Oleh karena itu, keduanya memiliki peran, kewajiban dan hak yang saling melengkapi untuk menyeimbangkan kehidupan beragama maupun kehidupan sosial. Pembahasan muzakki dan mustahiq dalam bidang keilmuwan terus mengalami perkembangan seiring dengan perkembangan dunia yang semakin kompleks dan tak jarang menimbulkan beberapa pertanyaan sehingga perlu adanya diskusi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Keadaan tersebut juga berlaku di Indonesia di mana negara Indonesia merupakan negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam.

Sumber-zumber zakat mencakup berbagai harta dari berbagai aspek kehidupan yang dimiliki oleh seorang manusia di dunia ini. Manfaat dan hikmah zakat sangat luar biasa bagi manusia, diantaranya menunjukan keimanan seseorang. Pentingnya Zakat dapat dilihat dari Al Quran dimana perintah wajib zakat banyak yang berdampingan dengan perintah sholat wajib. Harta-harta yang wajib dizakati berdasarkan kesepakatan fuqaha adalah dua jenis harta dari hasil tambang seperti emas dan perak yang bukan perhiasan. Masing-masing hasil tambang ini dizakati sebesar 2,5%, yang di mana emas dapat dizakati jika sudah mencapai nishab sebesar dua puluh mitsqal dan perak jika sudah mencapai lima uqiyah.

  1. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan kami kaji dalam makalah “zakat emas dan tambang”, antara lain:

  1. Apa pengertian dan syarat muzakki?
  2. Apa pengertian dan syarat mustahiq?
  3. Bagaimana ketentuan dalam mengeluarkan zakat emas?
  4. Bagaimna ketentuan dalam mengeuarkan zakat tambang?
  1. Tujuan Penulisan

Makalah ini dibuat dengan tujuan tidak lain untuk:

  1. Mengetahui pengertian dan syarat-syarat dari muzakki
  2. Mengetahui pengertian dan syarat-syarat dari mustahiq
  3. Mengetahui ketentuan dalam mengeluarkan zakat emas
  4. Mengetahui ketentuan dalam mengeluarkan zakat tambang

 

  1. Muzakki dan Syarat-Syaratnya

Muzakki adalah seseorang yang berkewajiban mengeluarkan zakat.[1] Menurut Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat pasal 1, muzakki adalah orang atau badan yang dimiliki oleh orang muslim yang berkewajiban menunaikan zakat. Zakat hanyalah diwajibkan atas orang yang telah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Islam

Dalil yang mendasarinya adalah perkataan Abu Bakar r.a:

هَذِهِ فَرِيْضَةُ الصَّدَقَةِ الَّتِىْ فَرَّضَهَا رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وًسَلَّمَ عَلَى الْمُسْلِمِيْنَ

“Inilah kewajiban zakat yang telah ditetapkan oleh Rasulullah SAW atas kaum muslimin.” (Riwayat al-Bukhari: 1386)

Dengan adanya kata-kata “atas kaum muslimin”, berarti jelas bahwa selain orang Islam tidak dituntut mengeluarkan zakat.[2]

Seorang Islam yang telah memenuhi syarat wajib zakat kemudian ia murtad sebelum membayarkan zakatnya maka menurut fuqaha Syafi’iyah, wajib baginya mengeluarkan zakat yang dimilikinya sebelum murtad. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat, murtadnya seseorang menggugurkan semua kewajibannya sebelum murtad, sebab setelah murtad ia sudah menjadi kafir asli dalam pengertian semua amal ibadahnya yang lalu tidak ada gunanya.[3]

  1. Merdeka

Keharusan merdeka bagi wajib zakat menafikan kewajiban zakat terhadap hamba sahaya. Hal ini sebagai konsekuensi dari ketiadaan hak milik yang diberikan kepadanya. Hamba sahaya dan semua yang ada padanya menjadi milik tuannya. Demikian halnya hamba sahaya yang telah diberikan kesempatan untuk memerdekakan dirinya dengan tebusan, karena ini belum secara sempurna memiliki apa yang ada padanya.

  1. Baligh dan berakal sehat

Ahli fiqh mazhab Hanafi menetapkan baligh dan berakal sebagai syarat wajib zakat. Menurut mereka, harta anak kecil dan orang gila tidak dikenakan wajib zakat karena keduanya tidak dituntut membayarkan zakat hartanya seperti halnya shalat dan puasa. Mayoritas ahli fiqh selain Hanafiyah tidak menetapkan baligh dan berakal sebagai syarat wajib zakat. Oleh karena itu, menurut mereka harta anak kecil dan orang gila wajib dikeluarkan zakatnya, dan yang mengeluarkannya adalah walinya, berdasarkan hadits Nabi SAW berikut:

عَنْ عَمْرِوبْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبيْهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ رَسُولُ اللَّهِ ص.م قَالَ مَنْ وَلِيَ يَتِيْمًا لَهُ مَالٌ فَلْيَتَّجِرْ لَهُ وَلَا يَتْرُكْهُ حَتَّى تَأْكُلَهُ الصَّدَقَةُ (رواه البيهقى)

Dari ‘Amr bin Syu’aib, dari bapaknya, dari neneknya, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang menjadi wali anak yatim yang memiliki harta hendaklah dia memperdagangkannya (mengembang-kannya) dan dia tidak boleh meninggalkannya sampai harta itu termakan oleh zakat.” (HR. Baihaqi)

  1. Memiliki harta atau kekayaan yang cukup nisab

Orang tersebut memiliki sejumlah harta yang telah cukup jumlahnya untuk dikeluarkan zakatnya.

  1. Memiliki harta atau kekayaan yang sudah memenuhi haul

Harta atau kekayaan yang dimiliki telah cukup waktu untuk mengeluarkan zakat yang biasanya kekayaan itu telah dimilikinya dalam waktu satu tahun.

  1. Memiliki harta secara sempurna

Maksudnya adalah bahwa orang tersebut memiliki harta yang tidak ada di dalamnya hak orang lain yang wajib dibayarkan. Atas dasar syarat ini, seseorang yang memiliki harta yang cukup satu nisab, tetapi karena ia masih mempunyai hutang pada orang lain yang jika dibayarkan sisa hartanya tidak lagi mencapai satu nisab, maka dalam hal ini tidak wajib zakat padanya; karena hartanya bukanlah miliknya secara sempurna. Orang tersebut tidak dapat disebut orang kaya melainkan orang miskin.

  1. Orang yang berkecukupan atau kaya

Zakat itu wajib atas si kaya yaitu orangyang mempunyai kelebihan dari kebutuhan-kebutuhan yang vital bagi seseorang, seperti untuk makan, pakaian, dan tempat tinggal. Zakat tersebut dibagikan kepada fakir miskin atau orang yang berhak menerima zakat. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah SAW.:

لَا صَدَقَةَ اٍلَّا عَنْ طَهْرٍ غَنِيٍّ (رواه احمد والبخار)

“Tidak wajib zakat kecuali dari pihak si kaya.”[4](HR. Ahmad dan Bukhari)

 

Mustahiq dan Syarat-syaratnya

Menurut Undang-Undang No. 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat pasal 1, mustahiq adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat. Allah SWT telah menentukan golongan-golongan tertentu yang berhak menerima zakat, dan bukan diserahkan kepada pemerintah untuk membagikannya sesuai kehendaknya.[5] Oleh karena itu, zakat harus dibagikan kepada golongan-golongan yang telah ditentukan yakni seperti dalam surat at-Taubah ayat 60 sebagai berikut:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاء وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللّهِ وَابْنِ السَّبِيلِقلى فَرِيضَةً مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ (التّوبه: . ٦ )

“Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengurus zakat, para mu’allaf yangdibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang untuk jalan Allah dan orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah: 60)

Berdasarkan ayat diatas, penjelasan 8 golongan penerima zakat itu sebagai berikut:

  1. Fakir

Imam Asy-Syafi’i mengakatakn bahwa fakir ialah orang yang tidak mempunyai harta benda dan tidak punya mata pencaharian. Hal tersebut terjadi secara terus menerus atau dalam beberapa saat,baik ia meminta-minta maupun tidak.[6]

  1. Miskin

Miskin ialah orang yang mempunyai harta atau mata pencaharian,namun belum mencukupi keperluannya sehari-hari, baik ia meminta-minta maupun tidak.[7]

  1. Amil Zakat

Amil zakat ialah orang yang ditunjuk oleh seorang pemimpin atau wakilnya dan dijadikan sebagai petugas untuk mengumpulkan zakat. Amil zakat disyaratkan merdeka, lelaki, muslim mukalaf karena memungut dan mengumpulkan zakat merupakan kekuasaan sementara kekuasaan mensyatarkan hal-hal tersebut. Amil boleh berasal dari orang miskin atau orang kaya.[8]

  1. Muallaf

Muallaf adalah orang laki-laki muslim yang keislaman nya masih lemah namun memiliki pengaruh terhadap kaumnya, jika masih kafir, ia tidak berhak menerima zakat meskipun ia ingin masuk islam.[9]

  1. Budak

Budak yaitu seorang muslim yang menjadi budak lalu dibeli dari harta zakat dan dibebaskan di jalan Allah atau seorang budak muslim yang ingin memerdekakan dirinya lalu diberi dari harta zakat agar menjadi orang-orang merdeka.

  1. Gharim (Orang yang berhutang)

Gharim adalah orang yang memiliki hutang yang terdesak mencari hutangan untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi ataupun karena kebutuhan-kebutuhan sosial maupun agama.

  1. Fi sabilillah

Fisabilillah adalah amalan yang dapat menyampaian pada keridhoan Allah dan Surga nya. Terkhusus dengan jihad untuk meninggkan agama Allah. maka orang yang ikut berperang dijalan Allah diberi zakat meskipun orang kaya.

  1. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil adalah muslim yang berpergian yang memerlukan uang untuk bekal perjalanan nya.maka ia berhak mendapatkan bantuan zakat sesuai dengan kebutuhan biaya imigrasinya.

  1. Zakat Emas

Harta-harta yang wajib di zakati berdasarkan kesepakatan Fuqaha adalah dua jenis harta dari hasil barang tambang seperti emas dan perak yang bukan perhiasan.  Zakat di wajibkan dalam emas bila telah mencapai satu nishab, telah berlalu satu tahun, lebih daru kebutuhan asasi dan hutang.

Emas yang wajib dizakati apabila telah cukup satu nisab. Dengan ketentuan sebagai berikut: Nisab emas dua puluh mitsqal (dinar), berat timbangannya 93,6 gram. Ukuran zakat emas adalah sabesar 2,5% dari 20 misqal kurang lebih zakat yang dikeluarkan sebesar 0,5 misqal atau setara dengan 2,34 gram. [10]

Emas tidak termasuk jenis perak. Seseorang tidak dibebani zakat emas sampai mencapai 20 dinar pada awal dan akhir haul (kepemilikan harta tersebut sudah berlalu/mencapai satu tahun).

  1. Zakat Tambang

Barang tambang menurut terminologi fuqaha ahnaf, malikiyah, dan hanabilah adalah sesuatu yang diciptakan Allah di dalam perut bumi berupa emas, perak, timah, lumpur merah, belerang, batu akik, dan minyak. Sementara fuqaha Syafi’iyah, hanya membatasi emas dan perak saja. Zakat tambang berupa emas sebesar 2,5 % telah mencapai 20 mitsqal dan perak telah mencapai 5 uqiyah (200 dirham), zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5%. Satu dirham sama dengan 3,12 gram.

Zakat tambang dapat dikeluarkan jika memenuhi ketentuan antara lain:

  1. Barang tambang tersebut harus didapatkan dengan cara yang baik dan halal. Artinya barang yang haram, baik substansi bendanya maupun cara mendapatkannya jelas tidak dapat dikenakan kewajiban zakat. Sedangkan apabila harta tersebut diperoleh dengan cara yang haram, maka zakat atas harta tersebut tidaklah wajib, sebab harta tersebut harus dibebaskan dari tugasnya dengan cara dikembalikan kepada yang berhak atau ahli warisnya.
  2. Milik penuh, artinya barang tersebut berada dibawah kontrol dan didalam kekuasaan pemiliknya secara penuh, sehingga memungkinkan orang tersebut dapat menggunakan dan mengambil seluruh manfaat dari barang tersebut.
  3. Tidak ditentukan haul. Zakat barang tambang tidak terkait dengan ketentuan haul, ia harus dikeluarkan pada saat memetiknya atau memanennya jika mencapai nishab, seperti zakat pertanian, Seperti disebutkan dalam surat Al An’am ayat 141:

وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

“Dan tunaikanlah haknya dihari memetik hasilmu (dengan dikeluarkan zakatnya)”.(QS Al An’am:141)

 

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan yang telah kami kaji, sehingga dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.

  1. Muzakki adalah seseorang yang berkewajiban mengeluarkan zakat. Dengan syarat-syarat yaitu islam, merdeka, baligh dan berakal sehat, memiliki harta atau kekayaan, cukup nisab, sudah memenuhi haul, memiliki harta secara sempurna, serta berkecukupan atau kaya.
  2. Mustahiq adalah orang atau badan yang berhak menerima zakat. Dengan syarat-syarat yaitu fakir, miskin, amil zakat, muallaf, budak, gharim, fi sabilillah dan ibnu sabil.
  3. Emas yang wajib dizakati apabila telah cukup satu nisab. Dengan ketentuan sebagai berikut: Nisab emas dua puluh mitsqal (dinar), berat timbangannya 93,6 gram. Ukuran zakat emas adalah sabesar 2,5% dari 20 misqal kurang lebih zakat yang dikeluarkan sebesar 0,5 misqal atau setara dengan 2,34 gram.
  4. Zakat tambang berupa emas sebesar 2,5 % telah mencapai 20 mitsqal dan perak telah mencapai 5 uqiyah (200 dirham), zakat yang dikeluarkan sebesar 2,5%. Satu dirham sama dengan 3,12 gram.

 

  1. Saran

Umat Islam harus memenuhi kewajiban zakatnya bagi yang mampu dan memenuhi syarat wajib untuk zakat, dikarenakan sangat pentingnya zakat bagi umat manusia. Janganlah menjadi orang yang kufur nikmat yang selalu tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah SWT berikan karena sesungguhnya semua yang ada di dunia ini hanyalah milik Dia semata dan akan kembali pada-Nya.

DAFTAR PUSTAKA

Aliy As’ad, Terjemah Fathul Muin. Yogyakarta; Menara Kudus, 1976

Anshory Umar Sitanggal, Fiqh Syafi’i Sistimatis II, Semarang: CV. Asy Syifa’, 1987

Hasan Ayub, Fiqih Ibadah  Panduan Lengkap Beribadah Sesuai Sunnah Rasullah SAW, Jakarta:Cakra Lintas Media, 2010

Muchtar, Fatwa-Fatwa Imam Asy-Syafi’i  Masalah  Ibadah, Jakarta: Amzah, 2014

Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002

Slamet Abidin dan Suyono, Fiqih Ibadah, Bandung: Pustaka Setia, 1998

Sulaiman Rasid, Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap) Cet ke-48,
Bandung: Siar Baru Algensindo, 2010

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, Minhajul Muslim Pedoman Hidup Ideal Seorang Muslim (Terj) Cet IX, Solo: Insan Kamil, 2016

Umrotul Khasanah, Manajemen Zakat Modern: Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Umat, Malang: UIN-Maliki Press, 2010

 

[1]Umrotul Khasanah, Manajemen Zakat Modern: Instrumen Pemberdayaan Ekonomi Umat (Malang: UIN-Maliki Press, 2010), hal. 37

[2] Anshory Umar Sitanggal, Fiqh Syafi’i Sistimatis II (Semarang: CV. Asy Syifa’, 1987) hal. 13

[3] Rahman Ritonga dan Zainuddin, Fiqh Ibadah, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), hal.178

[4]Slamet Abidin dan Suyono, Fiqih Ibadah , (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hal. 196

[5] Hasan Ayub, Fiqih Ibadah  Panduan Lengkap Beribadah Sesuai Sunnah Rasullah SAW, (Jakarta:Cakra Lintas Media, 2010), h.381

[6] Asmaji Muchtar, Fatwa-Fatwa Imam Asy-Syafi’i  Masalah  Ibadah, (Jakarta: Amzah, 2014), h.271

[7] Ibid

[8] Op cit, h.383

[9] Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jaza’iri, Minhajul Muslim Pedoman Hidup Ideal Seorang Muslim (Terj) cetIX, (Solo:Insan Kamil 2016), h.478

[10] Sulaiman Rasid, Fiqh Islam (Hukum Fiqh Lengkap) Cet ke-48,
(Bandung: Siar Baru Algensindo, 2010), h.202

 

Disusun Oleh:

  1. AZIZAH : 1721030130
  2. CANDRA IRAWAN : 1721030138
  3. DIAH AYU PUTRI : 1721030165
  4. ELIN DWI PRISTIANA             : 1721030184
  5. ETI ROHAYATI : 1721030193

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *