Islam, Keluarga dan Masyarakat

KELUARGA SEBAGAI FONDASI MASYARAKAT

Keluarga (Arab: al-usrah, Inggris: family) menurut pengertian yang umum adalah satuan kekerabatan yang sangat mendasar di masyarakat yang terdiri atas ibu, bapak, dan anak (Anton M. Moeliono 1989: 413). Sedangkan Hasan Ayub (1994: 255) menjelaskan bahwa keluarga ialah suatu kumpulan manusia dalam kelompok kecil yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak. Kumpulan dari beberapa keluarga di sebut masyarakat (society atau al-mujtama’). Dengan demikian, dapat di katakan bahwa keluarga merupakan organisasi terkecil dari suatu masyarakat-masyarakat terus berkembang, baik secara horizontal, maupun vertikal menjadi suku (sya’b) atau bangsa (nation).

Proses lahirnya sebuah keluarga atau rumah tangga di mulai dari hasrat dan keinginan individu untuk menyatu dengan individu lainnya. Hasrat itu merupakan fitrah yang di bawa sejak individu itu lahir. Menurut Soerjono Soekanto, hasrat manusia sejak di lahirkan adalah menjadi satu dengan manusia lain di sekelilingnya dan menjadi satu dengan suasana alam sekelilingnya. Oleh karena itu, terbentuknya sebuah keluarga di awali dengan proses memilih yang di lakukan oleh individu yang berlainan jenis kelamin, lalu melamar (khitbah), dan di akhiri dengan perkawinan (al-nikah).

Dalam memilih calon pasangan hidup berkeluarga, Nabi Muhammad SAW. Telah menentukan beberapa kriteria seseorang yang dapat di nikahi, di antaranya tidak ada pertalian darah, sudah dewasa (baligh) dan berakal, dan berkemampuan baik material maupun imaterial. Untuk penjelasan lebih lanjut tentang syarat-syarat perkawinan dan sebagainya, dapat dilihat dalam UURI no 1 tahun 1974 tentang perkawinan pada Bab I sampai V. Selain itu Nabi Muhammad Saw juga bersabda, :

“seorang wanita dinikahi karena 4 hal: karena kecantikannya, karena keturunannya, karna harta kekayaannya, dan karna agamanya. Jika kamu ingin selamat maka pilihlah wanita yang kuat agamanya.” (Ibnu Hajar al-‘Asqalani,t.th: 208-9)

Dalam berkeluarga kita harus mengetahui dan menjalankan hak dan kewajiban masing masing secara fungsional. Keluarga berperan sebagai tiang dan penyangga masyarakat yang menentukan arah dan gerak laju bangsa menuju kehidupan sejahtera yang di ridhai Allah Swt, karena negara yang baik di bawah naungan ampunan Tuhan.

Hasan Ayub menerangkan bahwa kehidupan keluarga suami dan istri di landasi dengan sifat saling membutuhkan, hubungan perasaan, dan saling memberi perhatian. Mengenai saling membutuhkan al-qur’an menjelaskan bahwa wanita merupakan bagian dari laki-laki. Oleh karena itu, keduanya tidak bisa hidup sendiri-sendiri. (Q.S. al-A’raf [7]: 189 dan al-Baqarah [2]: 187).

Sifat hubungan perasaan antara suami dan istri di gambarkan dalam Al-Qur’an surat al-Rum [30] ayat 21. Perasaan yang di maksud dalam ayat ini adalah perasaan tenang dan tentram yang terlahir dari cinta kasih antara pasangan suami dan istri yang mendapat rahmat Allah Swt. Cinta dan kasih akan muncul jika keduanya cocok atau serasi dalam banyak hal. Oleh karena itu dalam islam diperkenalkan teori kafa’ah (sebanding atau serasi). Menurut teori ini, ketika memilih dan menentukan calon pasangan hidup, hendaklah kita memperhatikan unsur keserasian, baik yang menyangkut keturunan, penampilan, tingkat pendidikan maupun kekayaan, terutama agama.

Suami istri tidak bisa lepas dari sifat saling memberi perhatian. Sebagian manusia, baik istri  maupun suami di tempatkan oleh islam dalam kedudukan yang sama. Perbedaan keduanya hanya dalam hal hal tertentu saja. Dalam kebersamaan kedudukan dalam keluarga, keduanya saling memberi perhatian yang terwujud dalam hak dan kewajiban.

Adapun hak dan kewajiban suami dalam keluarga adalah menggauli istrinya dengan baik, mengajarkan ilmu-ilmu agama kepada istri dan anaknya, memerintahkan anak dan istrinya berbuat baik dan melarang berbuat mungkar, berlaku adil, memberikan maskawin dan nafkah kepada istrinya, memberikan nafkah dan pendidikan kepada anaknya, tidak menyatiki perasaan istri dan menjaga perasaanya, serta mengatasi perselisihan dengan arif. Banyak ayat ayat al-qur’an dan hadist yang menopang hak dan kewajiban suami atas istrinya, salah satunya adalah surat  an-Nisa’ ayat 19 dan al-Baqarah ayat 229.

Seperti halnya suami, istri juga memiliki kewajiban dalam keluarga. Kewajibannya mencakup dua hal: pertama kewajiban terhadan suami, kedua kewajiban terhadap anak. Terhadap suami, istri berkewajiban menghormati dan mengakui kedudukan suami, taat dan melayani suami dengan baik, berhias untuk suami. Sedangkan kewajiban istri (atau ibu) terhadap anak adalah mengasuh dan mendidiknya.

Selain itu ada juga kewajiban istri (ibu) yang melekat secara bersamaan dengan suami (bapak), yaitu kewajiban orang tua kepada anaknya. Adapun kewajiban orang tua kepada anaknya adalah:

  1. Memberi nama yang baik, mencukurinya, melaksanakan aqiqah
  2. Memberi nafkah
  3. Mengasuh dan mendidik
  4. Memberi kasih sayang
  5. Bersikap adil
  6. Memberi teladan yang baik

Adapun di antara kewajiban anak terhadap orang tuanya adalah mengikuti    nasehat keduanya sepanjang nasehat itu berlandaskan kebaikan dan taqwa kepada Allah, berlaku sopan dan menyenangkan keduanya, serta mendo’akan keduanya, baik ketika masih hidup maupun sesudah mereka meninggal dunia.

Pengelompokan hak dan kewajiban antara suami, istri, dan anak merupakan landasan terbinanya keluarga sejahtera yang pada gilirannya akan melahirkan masyarakat sejahtera pula. Masyarakat ialah kumpulan individu, baik kecil maupun besar, yang terkait oleh satuan  adat, ritus atau hukum khas, dan hidup bersama. Ada beberapa kata di dalam Al-Qur’an yang menunjuk pada pengertian masyarakat. Kata kata itu adalah ummah, qawm, syu’ub, dan qaba’il. Di samping itu, Al-Qur’an pun memperkenalkan masyarakat dengan sifat-sifat tertentu, seperti al-mala’, al-mustakbirun, dan al-mustadh’afun. Ummah yang dalam bahasa Indonesia di tulis umat, menurut Anton M. Moelieno ialah para penganut (pemeluk atau pengikut) suatu agama, atau bisa juga di artikan mahluk manusia. Dalam terminologi yang lain, umat terkadang di artikan bangsa atau negara. Oleh karena itu, sesuai dengan pengertian yang di maksud, umat hanya sesuai untuk di kenakan kepada kelompok manusia.

Sebagian dari para ahli telah mencoba mengklarifikasi msyarakat berdasarkan ciri-ciri tertentu. Endang Saifuddin Anshari dengan mempergunakan paradigma Al-Qur’an, pengelompokan masyarakat menjadi sepuluh macam, yaitu:

  1. Masyarakat Muttaqun, yaitu masyarakat yang takut dan cinta serta hormat kepada Allah Swt, melaksanakan segala perintahnya serta menjauhi perbuatan yang di larang Nya. Mereka juga berhati hati dan waspada menjaga diri dari segala perbuatan agar tidak terperosok kepada kenistaan.
  2. Masyarakat Mukmin, yaitu masyarakat yang beriman kepada Allah yang di nyatakan dengan pengikraran secara lisan yang bertolak dari hati atau qalbu, kemudian di wujudkan dalam amal perbuatan.
  3. Masyarakat Muslim, yaitu masyarakat yang pasrah kepada ketentuan Allah dengan penuh keihklasan dan kesadaran.
  4. Masyarakat Muhsin, yaitu masyarakat yang selalu berbuat baik dan beribadah kepada Allah. Mereka selalu beribadah seolah-olah akan mati esok hari dan berkarya seolah olah akan hidup sepanjang masa.
  5. Masyarakat Kafir, yaitu masyarakat yang mengingkari dan menolak kebenaran Allah.
  6. Masyarakat Musyrik, yaitu masyarakat yang menyekutukan Allah Swt karena menganggap ada Tuhan lain selain Allah, menggap Allah itu mempunyai anak dan orang tua, serta menjadikan selain Allah sebagai tujuan akhir hidup mereka.
  7. Masyarakat Munafik, yaitu masyarakat yang bermuka dua dengan tanda tanda suka membuat dusta, tidak menepati janji, dan suka berkhianat.
  8. Masyarakat Fasik, yaitu masyarkat yang suka berbuat kerusakan dengan cara melanggar batas batas ketentuan Tuhan.
  9. Masyarakat Zalim, yaitu masyarakat yang suka menganiaya termasuk terhadap dirinya.
  10. Masyarakat Mutraf, yaitu masyarakat yang tidak mensyukuri nikmat dan anugrah Allah Swt.

Dari kesepuluh tipe masyarakat itu, yang termasuk masyarakat muslim yang sebenarnya adalah masyarakat tipe pertama, kedua, ketiga, dan keempat. Masyarakat muslim seperti yang di lukiskan oleh Muhammad Fazlurrahman Ansari adalah masyarakat yang teosentris dan etika-religius. Sebagai masyarakat etika-religius, mereka mendasarkan hidupnya atas idealisme etika teosentris yang bertopang pada sesama, rasa takut kepada Tuhan yang di cerminkan dalam perasaan takut pada pengadilan-Nya. Ada beberapa sebutan yang di kenakan kepada masyarakat islam. Berikut adalah beberapa istilah yang di kemukakan Endang Saifuddin Anshari tentang masyarakat islam, antara lain:

  1. Masyarakat yang satu (ummah wahidah), yang saling menguatkan dan bersaudara satu dengan yang lainnya, serta diikat dengan tali Allah.
  2. Masyarkat penengah, adil, dan pilihan (ummah wasath) yang berperan sebagai saksi bagi umat umat lainnya.
  3. Masyarakat yang seimbang, yaitu masyarakat yang menyeimbangkan antara pola hidup keduniaan dan pola hidup keakhiratan, tidak berat sebelah.
  4. Masyarakat yang saling menolong, suka bermusyawarah, serta menempatkan manusia pada harkat dan derajat yang sama.

Berbeda dengan Endang Saifuddin Anshari, Fazl al-Rahman Anshari                        dengan merujuk pada Al-qur’an memberikan sebutan lain untuk masyarakata islam. Sebutan sebutan itu ialah:

  1. Dilihat dari aspek struktural, masyarakat islam adalah masyarakat yang berdasarkan keluarga yang menempatkan keluarga sebagai unit. Keluarga menurut islam, di bangun di atas fondasi ketakwaan suami istri, ketakwaan orang tua, dan ketakwaan keturunan
  2. Dilihat dari aspek ideologi, masyarakat islam adalah masyarakat seutuhnya, yaitu masyarakat yang menjadikan islam sebagai way of life serta daya dorong untuk berbagai jenis karya sehingga nilai nilai islam mewarnai kehidupan mereka
  3. Dilihat dari aspek fungsional, masyarakat islam di sebut :
  • masyarakat ideal, dinamis, dan progresif,
  • masyarakat demokratis
  • masyarakat adil
  • masyarakat kasih sayang
  • masyarakat yang mementingkan orang lain
  • masyarakat terpelajar
  • masyarakat berdisiplin
  • masyarakat bersaudara
  • masyarakat sederhana

Konsep masyarakat ideal menurut islam adalah masyarakat sejahtera seutuhnya. Ia bisa di mulai dari penataan dan pembinaan keluarga melalui pendekatan nilai-nilai islam yang secara terus menerus diterapkan dalam kehidupan keluarga.

  1. MUSYAWARAH DAN TOLONG MENOLONG

Manusia saling membutuhkan dalam banyak aspek, guna  memenuhi hasrat dan kebutuhan hidupnya masing-masing. Kebutuhan itu satu sama lain terkadang saling bertentangan, kalau tidak di atur dalam satu kaidah atau norma yang jelas, itu bisa menimbulkan kekacauan, karena masing-masing berusaha sebisa mungkin memenuhi obsesi hidupnya. Norma tersebut adalah mekanisme pengadilan sosial yang di lakukan untuk melaksanakan proses yang direncanakan atau yang tidak direncanakan untuk mendidik menyesuaikan diri dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai kehidupan. Salah satu kaidah yang dapat di pergunakan untuk mengatur masyarakat itu ialah musyawarah.

Musyawarah adalah pembahasan bersama dengan maksud mencapai keputusan atau penyelesaian bersama. Dalam Al-Qur’an, istilah musyawarah di tampilkan dalam beberapa ayat, salah satunya adalah dalam surat Ali-Imran ayat 159 dan surat al-Syura ayat 38. Kedua ayat itu mengisaratkan bahwa segala urusan yang berkembang din masyarakat hendaklah di selesaikan dengan mekanisme musyawarah setelah melewati tahapan saling memaafkan (al-afw’) dan saling memintakan ampun, sehingga tidak ada masalah sepelik apapun yang tidak dapat di pecahkan. Kedua ayat itu pun menunjukan kebolehan ijtihad dalam segala urusan. Mengingat begitu penting nya musyawarah, islam tidak membatasi musyawarah hanya untuk golongan dan lapisan tertentu. Berikut ini beberapa alasan mengapa musyawarah dalam islam tidak di batasi.

  1. Bahwa materi yang di musyawarahkan itu sangat beragam dan kompleks sesuai dengan beragamnya persoalan yang di hadapi masyarakat dan seiring dengan semakin berkembangnya masyarakat dari masa kemasa di tempat dan negara yang berlainan.
  2. Jika Nabi Saw menetapkan kaidah kaidah musyawarah secara saklek, maka umat islam akan menjadikannya pedoman,bahkan agama yang harus diikuti dan dijalankan seperti apa adanya.

Dalam tradisi islam, musyawarah telah dilakukan sejak jaman Nabi Saw,    sahabat, dan tabi’in. Pada Nabi Raulullah Saw, bermusyawarah dengan sejumlah besar kaum muslimin, terutama para sahabat, seperti yang dilakukan pada saat menghadapi perang Uhud dan masih banyak lainnya.

Pada masa Khulafa Rasyidin, musyawarah di laksanakan seperti pada masa Nabi Saw. Mereka menempuh dua bentuk musyawarah: musyawarah yang sifatnya umum dan musyawarah yang sifatnya khusus. Musyawarah bentuk pertama diikuti oleh sejumlah besar sahabat untuk meyelesaikan masalah-masalah yang beranekaragam. Sedangkan musyawarah yang kedua diikuti oleh para sahabat terkenal yang memiliki wawasan dan ketajaman berfikir untuk menentukan model model yang akan dijadikan pedeoman dalam rangka memajukan negara.

Selepas masa Khulafa Rasyidin, umat islam memasuki era dinasti, seperti dinasti Umayah dan dinasti Abbasiyah. Pada masa kedua dinasti ini, musyawarah di lakukan di antara para menteri, para pemimpin, dan para pemimpin militer.

Musyawarah seperti yang telah di bahas sebelumnya merupakan sesuatu guna memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan persoalan hidupnya. Ia merupakan bentuk tolong menolong antar sesama manusia, baik sebagai individu maupun warga masyarakat.

Tolong menolong terkait erat dengan teori saling bergantung. Menurut teori ini, kebergantungan yang dimiliki manusia menunjukan sifat kefakiran manusia itu sendiri. Kefakiran melahirkan kebutuhan, baik yang berupa materi ataupun imateri. Secara individual, manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan kebutuhannya itu dengan baik. Pemenuhan kebutuhan itu menghendaki adanya kerjasama yang harmonis antara yang satu dan yang lainnya atau antara satu masyarakat dan masyarakat lainnya. Oleh karena itu, tolong menolong merupakan sesuatu yang secara mutlak perlu direalisasikan dalam kehidupan manusia.

Menurut Al-qur’an, persoalan-persoalan yang termasuk wilayah tolong menolong adalah ketakwaan dan kebaikan. Tolong menolong tidak boleh keluar dari koridor keduanya.

  1. HUBUNGAN SILATURAHMI

Secara naluri, manusia sebagai makhluk bermasyarakat, memerlukan komunikasi yang mesra dengan sesamanya. Komunikasi itu merupakan proses awal terjadinya kerja sama. Dalam istilah agama Islam, komunikasi lebih populer dengan sebutan silaturahmi. Silaturahmi berasal dari bahasa Arab yang artinya hubungan keluarga yang bertalian darah. Dari arti itu lalu beralih kearti lain, yaitu menghubungkan sesuatu yang memungkinkan terjadinya kebaikan serta menolak sesuatu yang akan menimbulkan keburukan dalam batas kemampuan.

Silaturahmi tidak hanya menyangkut keluarga yang bertalian darah, tetapi juga hubungan antara sesama manusia dan hubungan antara manusia dan alam sekitarnya. Silatrahmi ada ber macam-macam, yaitu silaturahmi dengan diri sendiri, silaturahmi dengan sesama manusia, silaturahmi dengan sesama agama, silaturahmi dengan alam sekitar. Adapun tingkatan silaturahmi adalah sebagai berikut:

  1. Berjabat tangan (al-mushafahah).
  2. Saling memberi nasihat (taushiyah).
  3. Saling bekerja sama dan tolong-menolong (al mu’awanah atau al-musa’adah).atau kebaikan
  4. Menyuruh berbuat baik dan melarang berbuat mungkar.

Adapun manfaat atau kebaikan silaturahmi seperti yang di gambarkan dalam hadist Nabi Saw, dari Abu Hurairah dan dikeluarkan oleh al-Bukhari yang dikutip oleh Muhammad bin Ismail al-Kahlani, yaitu:

“Barang siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah menghubungkan tali kekeluargaan.” (H.R. al-Bukhari).

Keburukan tidak bersilaturahmi atau memutuskan silaturahmi adalah tertutupnya pintu surga. Dengan kata lain, orang yang memutuskan silaturahmi tidak akan memasuki surga kebahagiaan, baik kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.

 

KESIMPULAN

Dari materi diatas saya dapat mengetahui keluarga adalah suatu  kumpulan manusia dalam kelompok kecil yang terdiri atas suami, istri, dan anak-anak. Suami mempunyai tugas member nafkah dan menggauli sedangkan isteri tugas mengurus suami dan anak anaknya, anak mempunyai tugas mengangkat derajat kedua orang tuanya dan menjaga nama baik kedua orang tua , mendengarkan nasehat keduan orang tuanya. Toloh menolong dan silahturami itu juga sangat penting karena pada dasarnya manusia itu tidak bisa hidup sendiri, karena manusia itu adalah mahkluk sosial.

DAFTAR PUSTAKA

Atang Abd Hakim. 2017. METODOLOGI STUDY ISLAM. (Bandung : PT            RemajaRosdakarya)

 

Penulis

Nama  : Riska Restiana

Kelas  : SIYASAH B

Npm   : 1721020285

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *