Satuan Tugas Meminta Panitia Dites COVID-19 Sebelum Pemotongan Hewan Kurban

Wiku Adisasmito
                                                                                                     Wiku Adisasmito 

Jakarta – (WAWAI.ID) Satuan Tugas Penanganan COVID-19 mewanti-wanti panitia pemotongan hewan kurban Idul Adha 2021 untuk menerapkan protokol kesehatan COVID-19 dengan ketat. Satgas COVID-19 meminta panitia yang terjun dalam pemotongan hewan kurban untuk dites COVID-19 terlebih dahulu.

“Kemudian protokol kesehatan pemotongan hewan, ini pastikan petugas panitianya sehat fisiknya dan tes swab antigen jadi betul-betul mereka sehat, supaya tidak mencemari, kemudian protokol kesehatan pada pemotongan hewan,” kata Juru Bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito dalam jumpa pers virtual di kanal YouTube BNPB Indonesia, Minggu (18/7/2021).

Wiku menerangkan panitia kurban ini harus berasal dari kalangan muda yang sehat jasmani maupun rohaninya. Wiku meminta para lansia terutama yang mempunyai komorbid (penyakit bawaan) untuk tidak ikut serta dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban.

“Kemudian lansia komorbid jangan ikut acara-acara seperti ini, sangat berbahaya dan mereka-mereka yang muda yang menjadi petugas kalau nanti kembali ke rumah pastikan bebersih diri supaya tidak menulari orang yang di rumah yang relatif usianya lebih lanjut,” ungkapnya.

Tak hanya itu, anak-anak juga tidak diperkenankan menonton penyembelihan hewan kurban karena dapat menimbulkan kerumunan. Aparat pemerintahan setempat, lanjut Wiku, harus memastikan penyembelihan hewan kurban dilakukan di ruang terbuka.

“Dan anak-anak juga tidak usah melihat pemotongan hewan supaya tidak terjadi kerumunan. Kemudian mekanismenya, camat hanya memberikan izin lokasi penyembelihan berdasarkan lurah atau desa. Jadi harus betul-betul tempat yang memadai layak untuk dilakukan, letaknya di outdoor,” kata Wiku.

Wiku meminta panitia kurban untuk memakai masker ganda dan selalu menjaga jarak agar terhindar dari pontensi penularan virus Corona. Alat yang digunakan pun, kata Wiku, tidak boleh dilakukan bergantian dan harus selalu dibersihkan.

“Saat kegiatan, petugasnya harus masker double, mencuci tangan, menjaga jarak, karena mereka punya potensi tertular, alatnya tidak boleh digunakan bergantian, harus dibersihkan,” tuturnya.

Wiku menyadari pembagian daging qurban memang mau tidak mau harus dilakukan kontak fisik dengan penerima. Akan tetapi, Wiku berharap pada proses ini, jaga jarak antar panitia dan penerima kurban harus betul-betul dilakukan dengan ketat dan tak berlama-lama.

“Jadi ini betul-betul penegakannya harus baik. Pelaksanaan kurban juga penyembelihan dan pembagian hasil kurban ini harus kontak fisik diminimalkan dan jaga jarak fisik jelas harus dijaga protokol kesehatannya ketat oleh petugas maupun siapapun yang menerima nantinya,” ucapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *